Apa itu depresi?
Apa saja tanda-tandanya, gejalanya dan yang menyebabkan terjadinya depresi?
Bisakah depresi diobati dan bagaimana cara pengobatannya?
Depresi adalah sebuah penyakit serius yang berhubungan dengan kejiwaan, psikologi atau mental seseorang. National Institute of Mental Health (NIMH) menyampaikan bahwa depresi adalah penyakit psikologis yang menganggu pola pikir, prilaku dan keinginan penderitanya (NIMH, 2019). Penyakit depresi ini dapat terjadi kepada siapa saja terlepas dari faktor umur, jenis kelamin dan budaya (Melnyk, Wong dan Massimo, 2010). Menurut world health organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia (WHO, 2019) ada lebih dari 264 juta jiwa dari berbagai umur menderita penyakit depresi dan kebanyakan perempuan lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan laki-laki. Disebutkan juga bahwa penyakit depresi ini menjadi pemicu terjadinya bunuh diri.
Sebelum melompat pada cara pengobatannya, lebih baik mengetahui tentang apa saja penyebab depresi?. Lalu, Bisakah depresi diobati dan bagaimana cara mengobati penderita penyakit ini sehingga tidak sampai bunuh diri?.
TANDA, GEJALA dan PENYEBAB MUNCULNYA PENYAKIT DEPRESI
Tanda dan gejala depresi dapat diketahui tentu saja oleh keluarga atau orang terdekat calon penderita seperti; rasa sedih yang berkelanjutan, kekhawatiran, kemurungan atau tidak ada hasrat atau mood, merasa bersalah, kehilangan minat untuk melakukan aktifitas yang disukai sebelumnya, berbicara atau bergeraknya menjadi pelan-pelan, merasa tidak bisa bersantai, ada masalah pada pencernaan tanpa sebab yang jelas dan atau tidak menjadi lebih baik meskipun diberikan obat, dll. Lebih lanjut, faktor penyebab penyakit ini adalah berasal dari kombinasi antara genetika atau keturunan keluarga, trauma atau stress, perubahan dalam kehidupan, lingkungan dan psikologinya sendiri (NIMH, 2019; Harvard University, 2009). Jadi, jika ada yang merasakan atau melihat salah satu diantara tanda-tanda gejala penyebab di atas, maka seseorang dapat dikatakan mengalami penyakit depresi. Lalu, apakah depresi dapat disembuhkan dan bagaimana cara pengobatannya?
Risiko yang akan ditanggung apabila seseorang yang memiliki keluhan penyakit depresi ini tidak diobati adalah munculnya penyakit baru seperti; Parkinson, Alzheimer, Mengurangnya Vitamin B12, Kanker, Kekebalan tubuh tertentu yang akan menurun sehingga mudah terserang penyakit lain atau virus seperti Hepatitis, HIV, menurunnya hasrat seks untuk wanita dan disfungsi alat kelamin pada laki-laki, dll. (Harvard University, 2009).

PENGOBATAN PENYAKIT DEPRESI
Jangan khawatir untuk penanganan penyakit ini. Penyakit depresi dapat diobati dengan cara terapi dan mengonsumsi obat atau kombinasi antara keduanya. Apabila cara awal tersebut tidak menurunkan dan menyembuhkan depresi maka cara lain seperti electroconvulsive therapy (ECT) dapat dilakukan (NIMH, 2019). Cara efektif untuk mengobati penyakit depresi baik yang tingkat depresinya tergolong ringan maupun yang lumayan serius, yaitu dengan mengonsumsi obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan farmasi (Melnyk, Wang dan Massimo 2010). Namun Melnyk, Wang dan Massimo (2010) menambahkan bahwa tidak sedikit dari pemakai obat-obatan ini menyadari efek samping yang tidak dinginkan di kemudian hari.
Saya pribadi tidak tahu apakah para psikolog yang punya ijin praktik di Indonesia memiliki alat atau menggunakan parameter untuk mengukur tingkat depresi pasien-pasiennya. Sebelum uji coba klinis menggunakan ekstrak Saffron dalam bentuk kapsul dilakukan oleh Akhondzadeh, et all (2004), mereka menggunakan parameter – Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D) untuk mengetahui tingkat depresi pasien yang akan diberikan pengobatan. Dalam penilitannya, mereka membandingkan 30 pasien dewasa yang diberikan imipramine dan ekstrak Saffron dalam bentuk kapsul. Hasil penilitian mereka menyimpulkan bahwa Saffron dapat dijadikan rujukan sebagai obat terapi alternatif untuk pasien depresi dengan level ringan dan medium. Di tahun selanjutnya, penelitain dilakukan dengan melibatkan 40 pasien yang diberikan ekstrak Saffron dalam bentuk kapsul sebanyak 30mg per hari selama 6 minggu. Hasil dari penelitian mereka menunjukkan perubahan positif yang mana level depresi pasien menurun (Akhondzadeh, et all., 2005).
Akhondzadeh Basti, et all (2007) melakukan perbandingan antara penggunaan fluoxetine 20mg per hari dan ekstrak bunga Saffron 30mg per hari kepada 40 pasien dewasa yang mengalami depresi dengan tingkatan ringan dan medium. Hasil yang didapat selama 8 minggu pengobatan adalah Saffron memiliki persamaan pengaruh positif dengan menggunakan obat fluoxetine. Sementara hasil penilitian dari Moshiri, et all (2006) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bunga Saffron sebanyak 30 mg per hari kepada 40 pasien dewasa selama 6 minggu efektif menurunkan tingkat depresi pasien. Pemberian ekstrak Saffron dalam bentuk kapsul 30mg per hari selama 6 minggu juga menunjukkan hasil yang efektif untuk mengobati pasien depresi dengan tingkatan depresi sama seperti penelitian sebelumnya. Pemberian 30mg perhari selama 6 minggu ini juga menghasilkan perubahan yang sama efektifnya dengan pemberian fluoxetine 20 mg per hari selama 6 minggu (Noorbala, et all., 2005). Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Melnyk, Wang dan Massimo (2010), Hausenblas, et all (2015) juga menyimpulkan bahwa Saffron dapat menurunkan risiko yang akan ditanggung oleh penderita penyakit depresi, seperti; insomnia dan kecemasan, penyakit jantung, pencernaan, gangguan pada pramenstruasi dan beberapa jenis kanker.

PENGGUNAAN SAFFRON PADA PENDERITA DEPRESI
Tentu cara penggunaan Saffron ini sangat penting untuk diketahui sebab pemakaian yang berlebihan dapat membahayakan penderita depresi itu sendiri. Jadi, untuk depresi pasien dapat mengonsumsi Saffron sebanyak 30mg per hari selama 6 minggu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan terus dilakukan karena tidak memiliki efek samping yang membahayakan kesehatan penderita di kemudian hari. Saffron dapat dilarutkan dengan air hangat atau dengan air mineral.
Lalu, bagaimana agar mengetahui hasilnya? Tentunya pasien harus konsultasi ke psikolog yang memiliki lisensi praktik dan mempunyai paramater untuk mengukur tingkat dipresinya. Perubahan dari pemberian Saffron juga bisa dirasakan oleh pasien atau keluarga seperti mulai responsifnya otak (neurotransmitters) pada kebiasaan yang dilakukan sebelum yang bersangkutan mendapati penyakit depresi. Untuk mendapatkan Saffron organik dari Kashmir, silahkan kontak penulis ini.
KESIMPULAN
Dari beberapa jurnal ilmiah yang dianalisa penulis maka dapat disimpulkan bahwa kandungan senyawa-senyawa kimia yang ada di stigma Saffron ini memiliki manfaat yang sangat berarti untuk dijadikan obat alami, dan menggantikan obat pabrikan massal untuk penderita depresi juga penyakit lainnya yang tentu saja dapat memicu efek samping di kemudian hari. Depresi dapat diobati dengan pemakaian Saffron secara rutin sehingga tingkat depresi yang diderita pasien semakin terkontrol. Dengan demikian rasa cemas, khawatir, kemurungan, menurunnya hasrat untuk melakukan aktifitas sehari-hari dapat dikendalikan dan pasien merasa lebih tenang daripada sebelum menggunakan Saffron.
Daftar Pustaka
Akhondzadeh, et all., 2004. Comparison of Crocus Sativus L. and imipramine in the treatment of mild to moderate depression: A pilot double-blind randomised trial. BMC Complimentary Alternative Medicine. Tersedia di https://doi.org/10.1186/1472-6882-4-12 (diakses 13 desember 2019)
Akhondzadeh, et all., 2005. Crocus Sativus L. in the treatment of mild to moderate depression: A double-blind randomised and placebo controlled trial. Phytotherapy Research Terdapat di https://doi.org/10.1002/ptr.1647 (diakses 13 desember 2019)
Akhondzadeh Basti, et all., 2007. Comparison of petal of Crocus Sativus L. and fluoxetine in the treatment of depressed outpatients: A pilot double-blind randomised trial. Journal of Progress in Neuro-Pychopharmacology and Biological Psychiatry. Elsevier. Tersedia di https://doi.org/10.1016/j.pnpbp.2006.11.010 (diakses 13 desember 2019)Harvard University, 2009. What causes depression?.
Harvard Medical School, Harvard Health Publishing. Terserdia di https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/what-causes-depression (diakses 27 desember 2019)
Hausenblas, et all., 2015. A Systematic Review of Randomized Controlled trials examining the effectiveness of Saffron (Crocus Sativus L.) on psychological and behavioural outcomes. Journal of Integrative Medicine Editorial Office. Elsevier. Tersedia di https://dx.doi.org/10.1016/S2095-4964(15)60176-5 (diakses 13 desember 2019)
Melnyk, John P., Wang, Sunan and Marcone, Massimo F., 2010. Chemical and Biological Properties of the World’s most expensive spice: Saffron. Food Research International 43, 2010. Elsevier. Tersedia di https://doi.org/10.1016/j.foodres.2010.07.033 (diakses 13 desember 2019)
Moshiri, et all., 2006. Crocus Sativus L. (petal) in the treatment of mild-to-moderate depression: A double-blind, randomized and placebo-controlled trial. Journal of Phytomedicine. Elsevier. Tersedia di https://doi.org/10.1016/j.phymed.2006.08.006 (diakses 13 desember 2019)
National Institute of Mental Health (NIMH), 2019. Depression. Tersedia di https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depression/index.shtml#part_145399 (diakses 27 desember 2019)
Noorbala, et all., 2005. Hydroalcoholic extract of Crocus Sativus L. versus fluoxetine in the treatment of mild to moderate depression: A double-blind, randomized pilot trial. Journal of Ethnopharmacology. Elsevier. Tersedia di https://doi.org/10.1016/j.jep.2004.11.004 (diakses 13 desember 2019)
World Health Organisation (WHO), 2019. Depression. Tersedia di https://www.who.int/health-topics/depression#tab=tab_2 (diakses 14 desember 2019)