Sebelumnya aku pikir setelah ujian akhir semester, aku bisa bersantai bersama teman -teman kuliahku. Ehm ehm… ternyata tidak seperti itu bro and sist. Aku harus ngepack barang -barangku karena aku pindah apartemen.
Barang-barang pribadiku buanyak sekali termasuk buku kuliah, catatan kuliah, baju, sepatu, meja, tempat tidur, dll. Yang paling banyak adalah buku (lebih dari 15 kardus ukuran 60m2). Untuk melakukan itu semua, aku tidak bisa sendirian tapi dibantu oleh 3 pekerja dari removing firm. Pukul 08:00 pagi bel apartemenku berdering, bertanda mereka telah datang. Saya welcome mereka dan kita kenalan, kebetulan mereka berasal dari Kosovo yang mungkin sudah menjadi warga negara Swiss (maaf aku orangnya tidak suka tanya perihal pribadi). Saya tidak perdulikan darimana asal mereka, karena saya harus packing, bersihkan (ngevakum, ngepel, bersihkan cendela, toilet, dll) dan pindah ke apartemen yang baru tapi sudah lama gedungnya.
Seiring waktu ngepaking berjalan aku ditanya aseli mana Mister Siswantoyo, aku jawab Indonesia. Setelah mereka tahu asalku, ehh mereka bertanya lagi, apakah aku moslem (karena pada dasarnya mereka liat ada sajadah di kamarku), aku jawab kebetulan iya. Lebih lanjut, disaat mereka istirahat sejenak mereka sempat bercerita tentang ketidakmungkinan mereka berpuasa karena faktor pekerjaan yang jelas-jelas membutuhkan dan menguras tenaga. Aku bisa memahami keluhan mereka sebab aku merasakan begitu beratnya melakukan puasa pada musim panas, meskipun aku tidak memiliki pekerjaan seperti mereka (kan kerjaanku adalah belajar dan belajar, aku gak bilang bahwa apa yang aku lakukan lebih menguras tenaga dari dalam daripada kerjaan lainnya you know… kerjaanku lebih banyak pakai tenaga otak untuk mengerjakan/menyelesaikan banyak tugas dari profesorku dan self-study).
Setelah ngepack barang-barangku selesai jam 12:00, 3 pekerja perusahaan pindahan itu mengangkat karton boks yang lumayan berat peek dari lantai 4 (gak pakai lift soalnya liftnya rusak hehe padahal sebenarnya gak ada) dan memasukkanya kedalam lorry yang sudah disiapkan di depan apartemenku. Mereka bekerja mulai jam 08:00 sampai jam 12:30 dengan suhu udara ± > 30°C. Suhu segitu kan biasa buat kalian yang ada di Indonesia. Namun, ini hal yang luar biasa untuk mereka (pekerja), warga Swiss atau mereka yang sudah berdomisili lama di Swiss.
Tahukah kalian bahwa waktu puasa pada musim panas di Swiss atau di negara-negara lainnya di Eropa, adalah 19-20 jam. Dimulai dari sahur jam 2:30 dini hari, lalu buka puasa jam 21:30. Selisih antara buka puasa dan sahur hanya sekitaran 4 jam. Jadi kalian yang berada di Indonesia, puasa itu mah sepeleh kan?… Pada musim panas banyak cewek – cowok bule jalan-jalan sambil makan es krim, buat BBQ diarea yang disediakan untuk umum (biasanya didalam taman), ada yang picnic di taman. Pemandangan seperti ini sudah biasa, karena mayoritas penduduknya adalah menganut beda keyakinan. Naah sekarang kalian dah tahu kan gambaran sekilas tentang puasa pada musim panas untuk pekerja lapangan di Swiss.
Sebagai tambahan saja, 3 pekerja tadi bercerita bahwa sering kali mereka sampai di rumah mereka di Jenewa jam 1:00 dini hari. Kalau mereka ditugaskan mengepak/mengangkut barang pindahan diluar kota Basel misalnya. Mereka harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan lalu lintas di jalan tol. Lalu, setelah selesai dilokasi satu, mereka pindah kelokasi lainnya untuk mengerjakan kerjaan yang sama.
Aku hanya bisa berkata kepada mereka, bahwa Tuhan tahu apa yang kalian lakukan adalah berat. Jadi, kalau memaksakan diri puasa maka kelangsungan hidup terancam. Maksudku, kalau tidak optimal kerjanya karena alasan puasa, kan bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Konsekuensinya bisa dipecat perusahaan, bisa melukai orang lain – secara mereka juga nyetir truknya (karena kurang konsentrasi yang disebabkan oleh kurangnya asumsi kalori).
Kira-kira kamu terpikirkan nggak, gimana ya mereka membagi waktu dengan keluarganya, meskipun pada akhir pekan mereka tidak bekerja?. Capek pastinya ya…Hmmm sulitnya mencari nafkah buat diri sendiri dan keluarga.
Beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga buatku dari cerita sekilas mereka:
1. Dengan suhu yang sangat panas buat orang Eropa (± 35°C) dan juga kering, membuat ketidakmungkinan buat mereka melakukan rukun iman yang ke 4.
2. Banyak godaan disana sini membuat iman harus dipertebal lagi.
3. Sulitnya membayangkan mereka berbagi waktu untuk keluarga.
4. Gaji di Swiss memang menggiurkan, tapi tuntutan kualitas kerja sangat di nomersatukan.
5. Sulitnya ya mencari nafkah. Namun, kalau sudah terima gaji yaa… Alhamdulillah… Maksudnya, bisa bayar sewa apartemen yang mahal juga biaya dipakai untuk memenuhi kelangsungan hidup lainnya yang woww sangat mahal dibandingkan dengan negara maju lainnya.
6. Tuhan maha tahu dan adil. Jadi puasa dan tidak puasa adalah urusan masing-masing. Kalau bisa puasa, kenapa tidak.
Sudah begitu aja dariku teman-teman. Lain kali, aku akan berbagi dengan kalian dalam topik yang berbeda.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang malakukan.
Cheers
Siswantoyo

