Guys, aku mau berbagi pengetahuan tentang perjalananku di suatu kota kecil di Prancis bagian selatan.
Perjalananku hari ini (baca: 28.12.2015) di salah satu kota kecil di Prancis selatan dimana walikotanya berasal dari partai politik yang sangat rasis terhadap imigran. Kebanyakan penduduk di kota ini sebelumnya adalah imigran baik dari negara bekas jajahannya Prancis maupun imigran dari negara yang berbahasa arab.
Mendengarkan cerita penduduk setempat yang aseli Prancis, aku sedikit herna karena seyognya imigran dimana-mana seharusnya berbaur dengan penduduk setempat agar hubungan antara warga setempat menjadi guyub. Tapi, kenyataannya tidak demikian, dimana para imigran kebanyakan sulit diajak berintegrasi dengan budaya lokal Prancis. Dikatakan bahwa para penduduk imigran ini lebih suka berkelompok dengan komunitasnya daripada dengan penduduk setempat. Aku selah sebentar cerita penduduk setempat, apakah boleh saya katakan bahwa mereka ini lebih nyaman dengan penduduk imigran lainnya karena merasa serumpun. Jawabnya, iya. Meskipun demikian, generasi baru dari para penduduk imigran ini mampu berbasa Prancis dengan baik. Kenapa bisa demikian, tanya saya kepada penduduk setempat. Karena generasi baru dari penduduk imigran kebanyakan tidak bisa bahasa arab meski mereka menganggap bahwa mereka keturunan arab.
Kalau menurutku sih sangat aneh kenapa mereka tidak berbaur dengan penduduk setempat lainnya yang tidak serumpun dengan mereka. Jika hanya bangga dengan ras-nya sih agak konyol karena apabila mereka ke negara yang berbahasa Arab tidaklah mungkin mereka dianggap bagian dari warga setempat, dengan alasan mereka tidak bisa bahasa Arab. Di sisi lain, di Prancis dimana kebanyakan mereka dilahirkan tidak bisa berbaur dengan penduduk lokal tapi bisa berbasa Prancis.
Lalu apa yang dapat aku simpulkan di sini. Baik, sebagai warga yang latarbelakang sebelumnya adalah masyarakat pendatang dari negara jajahan Prancis maupun pengungsi dari negara-negara berbahasa arab, tidak baik untuk kehidupan bermasyarakat mereka jika tidak berbaur dengan masyarakat sebelum para imigran dan pengungsi yang akhirnya mendapatkan hak sebagai warga negara Prancis.
Status sosial mereka kadang menjadi pertanyaan tersendiri karena gak jelas. Prancis bukan tapi bisa basa prancis Arab pun juga tidak karena tidak menjadi bagian dari warga negara asal nenek moyang mereka.
Jadi keingat kasus-kasus di Indonesia dimana banyak orang yang mengaku Pribumi. tapi bahasa pribumi sendiri tidak mereka ketahui seperti apa. Contoh kalau kita mengaku-ngaku keturunan orang jawa, bali, maluku, dsb. tapi gak bisa basa daerah tersebut kan ya gak lucu. Lebih aneh lagi dan gak lucu lagi, ketika kita ingin diakui dalam sebuah komunitas yang kita sendiri tidak bisa dan ngerti bahasanya. Untungnya bahasa pemersatu bangsa kita adalah bahasa Indonesia, tapi coba gak bisa basa Indonesia tapi ngakunya orang Indonesia. 😀 😀
Penduduk Indonesia harus berbenah diri kalau tidak waaah bisa ketularan para imigran yang tidak memiliki budaya yang sama dengan kita yang dapat mengancam integritas bangsa dan negara. Jadi, kitanya harus tidak mudah terpengaruh dengan misal berita yang gak jelas tentang mereka yang katanya yeah memiliki kesamaan dalam urusan kepercayaan.
Kembali kepada pengalaman ku selama 3 malam di kota kecil ini dimana diceritakan bahwa tingkat kriminalitas semakin tinggi apabila pendatang tidak mendapatkan pekerjaan. Ada salah satu dari beberapa rumah yang tidak dihuni pemiliknya (pemiliknya memiliki rumah lagi di kota lain) seringkali mendapati pintu rumahnya dijebol oleh maling. Dilaporkan ke polisi juga katanya percuma, karena tidak ada yang berubah setelahnya. Penduduk setempat menyebut kota mereka itu tidak berbeda dari kota penyamun dimana banyak sampah berserakan dimana-mana.
Nantinya (tidak tahu kapan) aku akan berkunjung ke kota ini karena kota kecil ini memiliki sejarah yang menarik untuk aku ketahui dan kalian pasti ingin tahu juga bagaimana bangunan bersejarah terawat hingga saat ini.
Sekian dulu ya…
Siswantoyo