Penggunanaan bahasa Prancis
Setelah beberapa bulan belajar bahasa Prancis intensif (baca: 3 jam perhari di kelas / 5 hari dalam seminggu + 3 jam di rumah tiap hari), aku siap menggunakan keahlian dalam bahasa asingku ke negara penutur bahasa asing. Beberapa kesulitan dalam mengungkapkan atau mengerti percakapan yang lumayan intense dan kompleks adalah hal biasa. Tapi, ada selalu solusi yaitu bertanya apa yang dimaksud dengan kata atau ungkapan tertentu yang aku sendiri belum pernah dengar sebelumnya.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan di daerah ini selain berinteraksi dengan alam dan anggota keluarga yang menjadi tuan rumah aku. Pertukaran budaya, informasi terkini semisal tsunami, rompi kuning (gilets jaunes), menjadi salah satu topik yang sering kami bicarakan. Ngobrol sambil menikmati makanan dan minuman adalah hal biasa dan menjadi budaya di sini. Misalnya, pada saat makan siang aku bertanya nama makanan dan bumbunya apa saja dan bagaimana cara membuatnya, termasuk berapa lama proses sampai matang. Saat minum teh atau kopi, kami bicara tentang banyak hal.
Kali ini aku pergi ke Saint Julien en Quint yang terletak di Prancis Selatan. Aku menginap di salah satu rumah teman selama delapan harian. Liburan akhir tahun ini memberikan hal yang baru diantaranya aku lebih percaya diri dalam penggunaan Bahasa prancis, selain itu aku mendapat pengalaman baru bagaimana anak yang ber umur antara 12 dan 15 tahun mengisi liburan sekolahnya dengan beberapa aktifitas. Dan yang terkakhir di saat aku menuju ke Jenewa aku dibuat terkesan oleh salah satu penumpang kereta api (KA) yang berkebutuhan khusus, yaitu tuna netra. Mas X itu naik KA sendiri, mencari tempat duduk sendiri dan intonasi bicaranya, kalimatnya sangat sopan. Kemandirian di sini memang tiada duanya.
Obrolan dengan anak-anak umur 12 dan 15 tahun
Yang paling mengesankan bagiku adalah mendengar cerita dan berinteraksi dengan percakapan anak dari keluarga yang aku tinggali. Mereka bicara banyak bercerita tentang pengalaman sekolahnya, bermain dengan teman sebayanya atau pengalaman pribadi setelah baca atau nonton film untuk level mereka. Banyak sekali hal yang tidak pernah aku jumpai di negaraku misalnya anak yang umuran 12 tahun bisa cerita tentang banyak hal mengenai kegiatan tiap harinya dan bisa menjelaskan idenya dan membela apa yang dianggap benar dengan justifikasi yang jelas. Anak yang berumuran 15 tahun lebih mampu bercerita banyak hal dan membela idenya sendiri dengan penjelasan baik.
Kemandirian Tunanetra
Melihat saudara-saudari di sini yang memiliki kebutuhan khusus misal tuna netra yang sedang berjalan-jalan di kota Jenewa adalah hal yang sudah lumrah. Tetapi, hal ini tidak biasa bagiku di dalam KA, dimana ada penumpang yang berbuat khusus ini mencari tempat duduknya sendiri tanpa harus minta bantuan orang lain (kecuali pada saat naik dan turun gerbong KA.
Sungguh liburan Natal yang sangat mengesankan, karena aku diperlihatkan banyak perbedaan yang membuat aku lebih sadar untuk menjadi manusia yang berguna bagi umat lainya.