
Selama ini banyak manusia baik yang jadi-jadian atau manusia seutuhnya dengan berbagai macam caranya berusaha untuk mencapai suatu kebahagiaan terlepas dari seberapa lama kebahagiaan dapat mereka pertahankan. Sebagian dari mereka ada yang pakai cara sederhana, pakai cara sedikit mewah dan sebagian lainnya ada yang pakai cara memaksakan diri. Semua ini dilakukan untuk suatu kebahagiaan.
Pertanyaan saya: Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri tentang definisi dari kesederhanaan dan kebahagiaan?. Jika sudah pernah, menurutmu kira-kira bagaimana mendifinisikan ke-dua istilah tersebut?. Selanjutnya bagi yang belum atau sudah pernah bertanya pada diri sendiri akan tetapi belum dan tidak mendapatkan jawabannya. Maka silahkan kamu baca tulisan sederhana ini:
Lyubomirsky (2007) dalam bukunya “The How of Happiness” mendefinisikan kebahagiaan sebagai pengalaman dari rasa kesenangan, kepuasan atau kesejahteraan yang dipadukan dengan sebuah sentuhan bahwa kehidupan seseorang itu bagus, berarti, dan bermanfaat. Lebih lanjut, kesederhanaan seperti yang disampaikan oleh merriam-webster (2017) adalah keadaan yang sederhana, tidak rumit, atau tidak terbebani.
Baik, saya tidak akan memberikan contoh konkritnya bagaimana kebahagian bisa didapatkan dengan kesederhanaan kamu sendiri atau sebaliknya bahwa dengan kesederhanaan kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Karena sederhana itu diartikan tidak neko-neko atau tidak mau terbebani. Apa yang akan kamu rasakan setelah suatu kebahagiaan yang kamu dapat melalui cara yang pemaksaan diri. Terlihat oleh orang lain memang bahagia atau kamu merasa sangat bahagia ketika dilihat bagaikan perubahan hidupmu berubah drastis. Contoh konkretnya bisa kamu cari sendiri di negara kamu. Siapa saja mereka yang kehidupannya selalu ingin terlihat bahagia dengan cara menjual ayat-ayat kitab suci agamanya. Mereka berlomba-lomba mencari ayat untuk pembenaran diri dan membohongi para jamaahnya pakai ayat-ayat dari kitab kepercayaannya.
Mereka yang mendapatkan kebahagiaan dengan cara seperti yang saya sampaikan di atas akan menyesali perbuatannya sebab yang dibohongi pakai ayat-ayat kitab suci agama perlahan-lahan akan sadar dan lapor ke divisi kriminal di kantor Polisi Republik Indonesia terdekat 🙂 dengan catatan yang tertipu daya keagamaan itu tidak merasa malu karena sudah tertipu dan dengan ikhlas memberitahukan masyarakat luas bahwa mereka sudah salah mempercayai orang yang sebelumnya dianggap mampu memberikan kebahagiaan yang mereka damba-dambakan.
By the way, photo yang saya lampirkan di sini hanya sebagai contoh bagaimana kebahagiaan dapat dicapai dengan sederhana. Saya jalan di pinggir sungai Arve dan merasakan hangatnya sinar matahari pada sore hari saat musim panas di Jenewa. Kalian lihat kan senyum bahagia saya. So ayo senyum bahagia lah kalian dan jangan mau dibohongi pakai agama yah!!
Sampai jumpa lagi pada artikel yang akan datang.
Daftar Pustaka:
1. Berkeley, University of California, 2017. What is Happiness?. Terdapat online di: https://greatergood.berkeley.edu/happiness/definition
2. Merriam-Webster, 2017. Definition of Simplicity. Terdapat online di: https://www.merriam-webster.com/dictionary/simplicity