Basel-Stadt, Swiss

Semua pasti tahu Swiss, negara kecil yang sangat maju dengan pendapatan perkapitanya yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya, seperti Amerika, Belanda, Jerman, Prancis, dan beberapa negara maju disekitarnya dengan beberapa negara yang manjadi pengecualian. Tapi jangan bangga dulu, sebab semua kebutuhan hidup di Swiss teramat sangat mahal dibandingkan dengan beberapa negara tersebut, pakai bingitz deh ini kali.

Penduduk di Swiss berjumlah total kurang lebih 8 juta orang dari total 26 kanton. Sebagai negara yang sangat demokratis, setiap Kantonnya punya hak otonomi daerah. Memiliki bendera kanton yang berbeda-beda, tetapi hanya ada satu nasional. Swiss memiliki total 4 bahasa resmi, yaitu German, Italy, Prancis dan Romansch. Oh ya, sebagai tambahan saja, rata-rata penduduk Swiss juga bisa bahasa Inggris walaupun bukan bahasa nasional. Keren gak?! Yaaaa pasti keren dooong. 😉

Universitasku memiliki 5 kampus yang terletak di beberapa kanton lhoo. Salah satunya di kanton Basel dan Solothurn. Aku sering commute dari tempat tinggalku – Basel ke kampus yang berada di Olten. Olten adalah kota kecil dibawah kendali Kanton Solothurn. Kalau ada mata kuliah diajarkan di kampus Basel yaa itu keuntunganku. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Karena banyaknya Kanton, tidak mungkin aku ceritakan semuanya disini. Simply because aku tidak tinggal di semua Kanton hehe… Jadi, jika ada yang penasaran tentang Kanton lainnya please browse sendiri ya. 😉

Sekarang, let me give you a bit overview of Basel yang terbagi menjadi dua kanton, ada Basel-Stadt dan Basel-Land yang boleh dibilang secara bahasa gaulnya, Basel coret. Aku tinggal di Basel Stadt, jadi aku bagi ceritanya ya…

Kanton Basel-Stadt = Basel-Kota

Basel-Kota adalah kota kecil yang resmi berdiri pada tahun 1833. Saat ini total penduduknya yang tercatat dalam daftar sensus kependudukan adalah sebanyak 190 ribu penduduk (Kanton Basel-Stadt’s website, tahun tidak diketahui). Selain kota ini menjadi salah satu pusat kota budaya di Swiss (karena banyaknya museum seperti historical museum, museum seni dan museum lainnya), Basel menjadi kota industri farmasi (karena banyak perusahaan farmasi disini) seperti Novartis, Roche, Bayer, Syngenta, Abbott, dsb. Kota ini juga telah beberapa kali dinobatkan menjadi 10 besar kota yang paling mahal sejagad raya (Tore, 2015). Lebih lanjut, Basel-Kota terletak diantara dua pinggiran kota, Weil am Rhein (cara bacanya: wail am rain), Jerman dan St. Louis (cara bacanya: Sang Luwi), Perancis.

Aku sendiri tinggal di Basel-Kota atau nama Swiss-Germannya “Gross Basel” yang memiliki kesamaan arti seperti diatas. Adapula “Klein-Basel” yang berarti Basel-Kecil. Yang membedakan Basel-Kota dan Basel-Kecil adalah “Rhein” atau sungai. Air sungai ini bersih, hampir bebas dari polusi dan menjadi salah satu jalur transportasi untuk kemakmuran ekonomi rakyat sekitarnya. Keren kann?. Pada musim panas, banyak orang yang berenang meskipun arusnya deras tapi tetap aman. Aku sendiri sering berenang dengan beberapa teman-temanku. Airnya terasa segar bingits! Coba sendiri deh kalau kalian ingin membuktikan… Jangan lupa, pakai baju renang ya hihihi…

I was chilling out by the Rhein in Klein-Basel

I was chilling out by the Rhein in Klein-Basel. This Rhein or river separates between Gross and Klein-Basel

Secara umum kebersihan baik di Basel-Kota maupun Basel-Kecil tidak perlu diragukan, semuanya sangat bersih. Para penduduknya, baik yang musiman maupun yang “native” sangat patuh dengan peraturan-peraturan yang ada. Contoh kecilnya adalah setiap penghuni apartemen diminta untuk tidak membuat keramaian setelah jam tengah malam. Kalaupun ada pesta, misalkan ulang tahun (ULTAH). Jauh hari (± semingguan) penghuni apartemen memberikan informasi kepada penghuni lainnya tentang pesta yang akan diadakan di dalam unit apartemennya. Pemberitahuannya juga gak pakai pengeras suara kaleeee atau “loud speaker”. Cukup tulisan diatas kertas kemudian ditempelkan dipintu utama gedung apartemen. Pengumuman mereka itu diakhiri dengan permintaan maaf jika ada yang terganggu. Sopan bingits kaaannn??

Very well-managed public transport to mitigate the traffic jam

A very well-managed public transportation. It is to mitigate the traffic jam in the city

Mengintip Penataan Kota

Tata kota, waah cik amik sekali, mulai dari tanda parkir sepeda gayung, motor sampai mobil ada semuanya. Kalau salah parkir, yaa siap-siap saja kena denda jika ada polisi penertiban kota mendapatinya. “Cyclists” atau para pengendara sepeda gayuh tidak diperbolehkan menggunakan sepedanya di jalur “pedestrian” atau pejalan kaki. Jika nekad dan kedapatan polisi, maka denda menjadi kewajiban yang harus dibayar oleh cyclists. Bayarnya kemana dan berapa jumlah dendanya? Nanya yaa… waah kira-kira ya ke Bank lah, kalian pikir tunai? Nooo… Berapa dendanya dan bagaimana cara pembayarannya, aku tak tahu sebab aku tidak pernah melanggar peraturan dan tata tertib hidup disini. 😉 I’m a good inhabitant and student you guys should know that.

Mengenai sampah, setiap penduduk wajib membeli kantung plastik untuk sampah yang berasal dari dapur (baca: sisa makanan, kerak telor, bekas bumbu, dan sejenisnya). Dua kali dalam seminggu petugas pembersih sampah akan mengambil, tapi penduduk wajib menaruh kantong yang penuh dengan sampah di depan gedung apartemen. Sampah kertas dibedakan dan sekali setiap bulan, petugas kota untuk sampah kertas akan mengambil dari depan apartemen (sampah kertas harus diikat rapi) yang dihuni. Botol plastik, alumunium, botol kaca sesuai warna harus dibuang di tempat yang sudah disediakan. Sampah jenis ini akan didaur ulang.

Well-regulated city

A very well-regulated city where you can see how good the inhabitants park their vehicles are. You also see no single rubbish scatter around.

Untuk parkir mobil, pemerintah kota (PEMKOT) memiliki cara yang sangat bagus dalam berkompetisi dengan banyaknya middle income yang mampu membeli mobil. Cara jitu PemKot adalah membatasi tempat parkir gratis dengan memberikan beberapa warna garis disekitar tepi jalan di seluruh kota. Misal, garis biru adalah gratis untuk parkir beberapa jam saja. Untuk garis putih, tidak ada batasan waktu parkir. Semua pemilik mobil dimana tempat yang mereka tinggali tidak memiliki fasilitas parkir mobil akan berlomba-lomba untuk mendapatkan parkir gratis.

Parkir yang berbasis bayar baik langganan maupun permanen juga ada, namun harga sewa tempat parkir mobil itu mahal sekali ya. Berapa ya kisaran dendanya? hmmm maaf, aku dulu pernah nanya ke teman, namun sekarang lupa. Soalnya, aku pakai sepeda gunungku dan di apartemenku ada tempat parkir sepeda gratis didalam gedung pula.

Mengenai bahasa, bahasa yang dipakai sehari-hari oleh penduduk adalah Swiss-jerman dengan dialeknya Basel, of course. Tapi, kebanyakan juga warga Basel bisa bahasa Perancis karena kota ini memang terletak didua kota yang aku sebutin sebelumnya. Aku bisa bahasa prancis dan bisa bahasa jerman sedikit so tidak masalah untuk komunikasi ringan :). Penduduk di Basel sangat ramah dan mereka tidak mau peduli dengan urusan-urusan pribadi orang lain disekitarnya. Bisa aku bilang seperti ini; “your business is not my business though we are friends.” asyik kann… Misal, yang cowok mau bawa ceweknya atau sebaliknya ke apartemen dan menginap tidak ada seperti Pak/Bu RT, RW, petugas kelurahan atau polisi pamong praja yang mengganggu sambil ngetuk pintu apartement pasangan muda-mudi yang sedang bertamu/menginap, lalu bertanya hey sudah pukul 22:00 neh ayo balik, or tunjukkan mana surat nikah kalian. Layaknya bisa dibilang begini; Do whatever you wanna do as long as don’t bother the others, respect privacy!. Jangan bertanya apakah mereka tidak takut dosa. Bisa-bisa ditanya balik deh kalian, definisi dosa itu seperti apa?, kembali kepada aturan mainnya privasi, mind your business!

Oh ya, kebanyakan dari kalian pasti belum tahu bahwa Swiss adalah negara yang sangat menghargai waktu. Semua urusan ditentukan oleh waktu dan yang mengatur waktu adalah manusia bukan sebaliknya yeee. Semuanya serba tepat waktu, dari janjian pribadi, bisnis, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi umum. Semuanya serba cepat, tepat, efisien, dengan kualitas sempurna. Wajar saja kalau aku mengalami culture shock kali pertama tinggal disini. Namun, aku tidak mau memiliki perilaku seperti sewaktu aku hidup di Indonesia so mau tidak mau harus adaptasi. Aku sukses beradaptasi yeeeyyy!! Selamaat buat aku!! menghibur diri yang baik adalah seperti itu hehe.

Sebelumnya aku tidak biasa memasak makanan sendiri, karena faktor budaya atau tepatnya “malas” yang aku bawa dari Indonesia. Namun, sekarang aku bisa masak makanan yang aku perlukan walaupun tidak se-enak masakan keluargaku di Indonesia. Hikss jadi kangen deh ama keluarga dan masakan-masakan lezatnya. Kenapa harus masak sendiri?. Well, ada alasan kuat untuk itu. Kalau mau cepat bangkrut ya beli saja makanan jadi di restoran. Dijamin kanker alias kantong kering deh dalam hitungan hari. Bayangkan sekali makan saja ±130 ribu rupiah dan harga tersebut untuk take away bukan eat in. Kelasnya di wapo alias warong pojok dan se-porsi tidak termasuk minum ya. Kalau mau yang sedikit bergaya ya makan di “restoran” dan harga se-porsinya untuk eat in ±320 ribu rupiah juga tidak termasuk minum. Kalau pas kelaparan yaa porsi kecil gak cukup, apalagi yang suka makan bisa tekor tuh penyokong dana. Semuanya sangat mahal tapi keamanan, ketentraman dan kenyamanan hidup di Basel adalah jaminan pasti walaupun kadang ada kecopetan/malingan. Lumrahkan toh ada bad dan good people.

Semoga informasi ini kali bisa berguna untuk yeaaa sekedar pengganjal wawasan tentang Basel, Swiss. Masih banyak hal yang bisa aku bagikan mengenai Basel-Kota denganmu, namun sementara ini dulu.

See you next time yaaa

Cheers
Siswantoyo

Daftar Pustaka:

Kanton Basel-Stadt, tidak diketahui. Basel – One Canton, Three Municipalities. Tersedia online di <http://www.bs.ch/en/Portrait/Einleitung-Weltstadt/Kanton-Basel-Stadt.html > [diunduh 5 Juli 2015].

Tore, Ozgur., 2015. Capital of Angola is the most expensive city for expatriates. Focus on Travel News (FTN), 2015. Tersedia online di <http://ftnnews.com/other-news/27565-capital-of-angola-is-the-most-expensive-city-for-expatriates.html > [diunduh 5 Juli 2015].

Posted in European Countries | Tagged , , | 7 Comments

Puasa Musim Panas: Cerita nyata dari pekerja lapangan di Swiss

Sebelumnya aku pikir setelah ujian akhir semester, aku bisa bersantai bersama teman -teman kuliahku. Ehm ehm… ternyata tidak seperti itu bro and sist. Aku harus ngepack barang -barangku karena aku pindah apartemen.

Barang-barang pribadiku buanyak sekali termasuk buku kuliah, catatan kuliah, baju, sepatu, meja, tempat tidur, dll. Yang paling banyak adalah buku (lebih dari 15 kardus ukuran 60m2). Untuk melakukan itu semua, aku tidak bisa sendirian tapi dibantu oleh 3 pekerja dari removing firm. Pukul 08:00 pagi bel apartemenku berdering, bertanda mereka telah datang. Saya welcome mereka dan kita kenalan, kebetulan mereka berasal dari Kosovo yang mungkin sudah menjadi warga negara Swiss (maaf aku orangnya tidak suka tanya perihal pribadi). Saya tidak perdulikan darimana asal mereka, karena saya harus packing, bersihkan (ngevakum, ngepel, bersihkan cendela, toilet, dll) dan pindah ke apartemen yang baru tapi sudah lama gedungnya.

Seiring waktu ngepaking berjalan aku ditanya aseli mana Mister Siswantoyo, aku jawab Indonesia. Setelah mereka tahu asalku, ehh mereka bertanya lagi, apakah aku moslem (karena pada dasarnya mereka liat ada sajadah di kamarku), aku jawab kebetulan iya. Lebih lanjut, disaat mereka istirahat sejenak mereka sempat bercerita tentang ketidakmungkinan mereka berpuasa karena faktor pekerjaan yang jelas-jelas membutuhkan dan menguras tenaga. Aku bisa memahami keluhan mereka sebab aku merasakan begitu beratnya melakukan puasa pada musim panas, meskipun aku tidak memiliki pekerjaan seperti mereka (kan kerjaanku adalah belajar dan belajar, aku gak bilang bahwa apa yang aku lakukan lebih menguras tenaga dari dalam daripada kerjaan lainnya you know… kerjaanku lebih banyak pakai tenaga otak untuk mengerjakan/menyelesaikan banyak tugas dari profesorku dan self-study).

Source: Author, packing my books, 2015

Source: Author, packing my books, 2015

Setelah ngepack barang-barangku selesai jam 12:00, 3 pekerja perusahaan pindahan itu mengangkat karton boks yang lumayan berat peek dari lantai 4 (gak pakai lift soalnya liftnya rusak hehe padahal sebenarnya gak ada) dan memasukkanya kedalam lorry yang sudah disiapkan di depan apartemenku. Mereka bekerja mulai jam 08:00 sampai jam 12:30 dengan suhu udara ± > 30°C. Suhu segitu kan biasa buat kalian yang ada di Indonesia. Namun, ini hal yang luar biasa untuk mereka (pekerja), warga Swiss atau mereka yang sudah berdomisili lama di Swiss.

Tahukah kalian bahwa waktu puasa pada musim panas di Swiss atau di negara-negara lainnya di Eropa, adalah 19-20 jam. Dimulai dari sahur jam 2:30 dini hari, lalu buka puasa jam 21:30. Selisih antara buka puasa dan sahur hanya sekitaran 4 jam. Jadi kalian yang berada di Indonesia, puasa itu mah sepeleh kan?… Pada musim panas banyak cewek – cowok bule jalan-jalan sambil makan es krim, buat BBQ diarea yang disediakan untuk umum (biasanya didalam taman), ada yang picnic di taman. Pemandangan seperti ini sudah biasa, karena mayoritas penduduknya adalah menganut beda keyakinan. Naah sekarang kalian dah tahu kan gambaran sekilas tentang puasa pada musim panas untuk pekerja lapangan di Swiss.

Source: Author, packing my books and clothes, 2015

Source: Author, packing my books and clothes, 2015

Sebagai tambahan saja, 3 pekerja tadi bercerita bahwa sering kali mereka sampai di rumah mereka di Jenewa jam 1:00 dini hari. Kalau mereka ditugaskan mengepak/mengangkut barang pindahan diluar kota Basel misalnya. Mereka harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan lalu lintas di jalan tol. Lalu, setelah selesai dilokasi satu, mereka pindah kelokasi lainnya untuk mengerjakan kerjaan yang sama.

Aku hanya bisa berkata kepada mereka, bahwa Tuhan tahu apa yang kalian lakukan adalah berat. Jadi, kalau memaksakan diri puasa maka kelangsungan hidup terancam. Maksudku, kalau tidak optimal kerjanya karena alasan puasa, kan bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Konsekuensinya bisa dipecat perusahaan, bisa melukai orang lain – secara mereka juga nyetir truknya (karena kurang konsentrasi yang disebabkan oleh kurangnya asumsi kalori).

Kira-kira kamu terpikirkan nggak, gimana ya mereka membagi waktu dengan keluarganya, meskipun pada akhir pekan mereka tidak bekerja?. Capek pastinya ya…Hmmm sulitnya mencari nafkah buat diri sendiri dan keluarga.

Beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga buatku dari cerita sekilas mereka:

1. Dengan suhu yang sangat panas buat orang Eropa (± 35°C) dan juga kering, membuat ketidakmungkinan buat mereka melakukan rukun iman yang ke 4.

2. Banyak godaan disana sini membuat iman harus dipertebal lagi.

3. Sulitnya membayangkan mereka berbagi waktu untuk keluarga.

4. Gaji di Swiss memang menggiurkan, tapi tuntutan kualitas kerja sangat di nomersatukan.

5. Sulitnya ya mencari nafkah. Namun, kalau sudah terima gaji yaa… Alhamdulillah… Maksudnya, bisa bayar sewa apartemen yang mahal juga biaya dipakai untuk memenuhi kelangsungan hidup lainnya yang woww sangat mahal dibandingkan dengan negara maju lainnya.

6. Tuhan maha tahu dan adil. Jadi puasa dan tidak puasa adalah urusan masing-masing. Kalau bisa puasa, kenapa tidak.

Sudah begitu aja dariku teman-teman. Lain kali, aku akan berbagi dengan kalian dalam topik yang berbeda.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang malakukan.

Cheers

Siswantoyo

Posted in Miscellaneous | Leave a comment

Beberapa tantangan Belajar Pada universitas di Swiss (1)

Hi there

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin berbagi pengalaman dengan kalian. Namun, ada beberapa macam kendala dan salah satunya adalah ketidakadanya cukup waktu, selain itu saya masih newbie untuk blog seperti ini dan belum tahu caranya buat wesbite sendiri. Well, meskipun saat sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berbagi, sebab sedang membaca banyak artikel untuk Master Thesis (MT), saya akan tulis beberapa pengalaman seputar sistem pendidikan di unversitas secara umum maupun khususnya di universitas dimana saya belajar. Baiklah, kita mulai saja ya!

Pada umumnya hampir semua universitas di Swiss memiliki beberapa persyaratan yang sama antara satu dan lainnya. Salah satu dari kebanyakan persyaratan adalah ketrampilan bahasa asing (baca: Inggris) yang dibuktikan dengan hasil TOEFL, untuk TOEFL biasanya calon mahasiswa S2 harus mengantongi nilai 7, kemudian nilai akademik undergraduate level atau S1 di Indonesia, dll. Secara spesifiknya, setiap universitas dan fakultas yang diminati memiliki persyaratan tersendiri. Misalnya, test GMAT atau GRE. Baik, untuk lebih jelasnya silahkan browse di websitenya universitas dan fakultas yang kamu suka.

Pada saat saya melamar S2. Saya harus menyiapkan beberapa persyaratan, mulai dari nilai akademik, menyiapkan surat motifasi diri, juga Curriculum Vitae. Oh ya, kebetulan saya alumni dari Universitas Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland – FHNW. Namun, ada tes tulis dan wawancara dengan dua penguji. Lumayan menantang euuyy. Untuk test tulis, saya harus menjawab beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan. Kemudian, untuk wawancaranya saya diberikan beberapa pilihan dan diminta memilih salah satu dari studi kasus. Setelah selesai saya akan diberitahu hasilnya melalui email. di Swiss tidak ada informasi baik diterima maupun tidaknya calon mahasiswa/wi melalui telp. Semuanya dilakukan lewat surat pos dan email.

Kira-kira sebulan saya menunggu hasilnya. Wuihhh rasanya bangga deh bisa diterima di salah satu universitas negeri di Swiss bebas dari syarat apapun.!! Maksud dari bebas syarat itu saya tidak harus mengikuti mata kuliah tambahan secara intensif selama 2 – 3 bulan sebelum perkuliahan dimulai.

Selanjutnya, saya akan memberikan gambaran bagaimana penyampaian kualitas mata kuliah di universitas saya, tugas mata kuliah dari para dosen, juga nilai ujian akhir semester. Menurut Anda mudah, lumayan sulit, atau menantang pakai bingitz?. Baik, saya akan jelaskan secara ringkasnya dalam beberapa bagian:

1. Kualitas Penyampaian Mata Kuliah

Proses pembelajaran memakai bahasa inggris. Bukan hal yang sulit sih bagi saya karena saya sudah biasa berbahasa asing. Tapi..ssstt… jangan bilang siapa-siapa ya kalau kadang saya harus buka kamus 😛

Yang jelas dosen di kampus saya kebanyakan bergelar Prof. Doktor dari universitas baik dalam maupun luar Swiss. Mereka tidak hanya berpengalaman dalam dunia pendidikan saja, mereka juga praktisi bisnis pada bidangnya masing-masing. Banyak studi kasus yang harus kami pelajari, setelah itu kami presentasikan pilihan-pilihan solusi (kalau itu tugas kelompok, kalau tugas individu ya saya presentasikan sendiri). Dosennya saya acungi jempol deh!!

Lebih lanjut, di universitas saya, kebanyakan professor tidak memberikan point keaktifan pada mata kuliah yang diajakarkan. Mau aktif 100% juga tidak akan berpengaruh pada nilai ujian akhir!! Absensi 99% pun tidak penting. Memang, dari semua mata kuliah yang saya ambil tidak mengharuskan mahasiswa-wi hadir untuk mengikuti perkulihaan. Hebaat ya? Yaaa belum tentu juga. Kalau pada ujian akhir semester (UAS) tidak bisa jawab soal-soal yang diujikan ya GATOT – Gagal Total.

2. Tugas Mata Kuliah dari Para Dosen 

Mengenai tugas dari Dosen-dosen, saya akan jelaskan pada lembar yang baru saja ya supaya tidak telalu panjang kalian membacanya. Okay?. Thank you atas perhatiannya.

Cheers
Javanais

Posted in Education | Tagged , , , | 4 Comments

Stop Bicara Takdir: Kendaraan Bermotor Menjadi Salah Satu Mesin Pembunuh di Indonesia

Salah satu kebutuhan dasar yang menjadi mesin laju ekonomi baik pada tingkat nasional, regional ataupun lokal adalah infrastruktur transportasi. Disini peran pemerintah daerah (PEMDA) sangat penting untuk mensukseskan laju ekonomi daerahnya, sebagaimana yang sudah dicatat oleh DJPP’s website (publikasi tahun tidak diketahui) tentang hak otonomi daerah, dimana hal yang dimaksud sudah diberikan oleh pemerintah pusat kepada PEMDA melalui undang-undang otonomi daerah no 22 pada tahun 1999.

Demi tercapainya ekonomi daerah yang adil, pemerintah daerah berhak melakukan pengembangkan fasilitas umum secara berkala seperti perbaikan dan pembuatan jalan baru dari pelosok sampai ke jalan raya. Hal demikian dilakukan agar aktifitas para pelaku ekonomi di daerah (baca: petani, pedadang, dsb.) semakin mudah. Seiring dengan perkembangan fasilitas umum ini, maka tidak heran jika jumlah kendaraan bermotor di Indonesia semakin tahun bertambah. Menurut Balai Pusat Statistik (BPS’ website, 2012), jumlah pemilik kendaraan bermotor pada tahun 2012 naik sekitar 9.29 persen dari tahun sebelumnya yakni 85.601.351 kendaraan.

Memang benar bahwa bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia memiliki dampak positif dimana hal ini selanjutnya tidak perlu dijelaskan, karena saya berkeyakinan bahwa masyarakat Indonesia sudah mengetahuinya. Namun, dampak negatif terhadap kelangsungan hidup masyarakat Indonesia sepertinya belum atau tidak jelas. Maksud dari ketidakjelasan dari kelangsungan hidup adalah mereka (pengendara kendaraan bermotor) tidak percaya sebelum dihadapkan dengan kenyataan yang pahit. Salah satu contoh empirisnya adalah, kebanyakan masyarakat Indonesia belum atau bahkan tidak mengerti tentang peraturan lalu lintas dan bagaimana mengemudikan kendaraan secara aman baik untuk diri mereka sendiri maupun pengemudi lainnya atau pengguna jalan umum. Masih belum percaya? Silahkan bertanya pada keluarga dan teman-teman disekitar Anda yang pernah ditabrak atau menabrak orang lain.

Menurut Badan Intelijen Negara atau BIN (2014) ” Data Kepolisian [R]epublik [I]ndonesia menyebutkan, pada 2012 terjadi 109.038 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang, dengan potensi kerugian sosial ekonomi sekitar Rp 203 triliun – Rp 217 triliun per tahun (2,9% – 3,1 % dari Pendapatan Domestik Bruto/PDB Indonesia). Sedangkan pada 2011, terjadi kecelakaan sebanyak 109.776 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 31.185 orang.” adalah sekali lagi bukti dari dampak negatif terhadap banyaknya masyarakat yang membeli kendaraan bermotor tanpa mengerti dan mengetahui tentang bagaimana tata cara mengemudi dan peraturan lalu lintas dengan jelas.

Kebanyakan warga yang tinggal di perkotaan dan pedesaan memberikan kewenengan kepada anggota keluarganya untuk mengendarai baik sepeda motor atau mobil. Ironisnya, mereka yang mengemudikan kendaraan bermotor adalah belum memiliki cukup umur untuk mengemudikan kendaraan bermotor (baca: pengendara berumur sekitar 9 – 16 tahun). Tidak ada seorangpun yang ingin mengalami kecelakaan. BIN (2014) mencatat bahwa korban kecelakaan lalu lintas paling banyak terjadi pada masyarakat tidak mampu selain itu juga pada usia yang sangat muda (10-24 tahun) dan produktif (22-50 tahun).

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang pernah saya temui pada umumnya pasrah dengan mengatakan ahhh itu “Takdir” karena Hidup dan Mati sudah ada yang mengatur (mengatur mbahmu tha!!). Lebih lanjut, yang paling penting adalah bisa mengemudikan kendaraan bermotor. Dalam konteks kecelakaan, bisa diartikan bahwa kecelakaan sepeda motor karena pengendara belum cukup umur atau pengendara yang tidak mengerti tata tertib lalu lintas, adalah TAKDIR dan semuanya adalah, kehendak sang pencipta.

Menurut saya, ini adalah sebuah kebodohan massal, karena kecelakaan banyak terjadi dikarenakan pengemudi kendaraan bermotor yang tidak;

1. Mengerti dan mengetahui tentang peraturan lalu lintas dan tata cara mengemudikan kendaraan bermotor secara aman.

2. Mengerti tentang kondisi jalan.

3. Hati-hati, dll.

Kendaraan bermotor menjadi pemicu kematian tingkat tiga di Indonesia setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis (BIN, 2014). Jadi, semuanya jangan diasumsikan “Takdir” karena ketidakhati-hatian pengendara motor.

Oleh sebab itu, kebodohan itu jangan dipelihara dan segeralah belajar dari apa yang sudah terjadi. Bisa juga bertanya dan belajar dari orang yang mengerti lalu patuhilah peraturan lalu lintas. Sedangkan, kalau belum cukup umur dan masih BO DO H, ya jangan mengemudikan kendaraan bermotor. Kasihani ragamu dan juga keluargamu sendiri yang sudah kamu bikin kerepotan – merawat korban kecelakaan dari sebuah kegoblokanmu.

Eits, sebentar… tidak boleh dilupakan ya bahwa negara juga akan direpotkan oleh tingkah laku masyarakat yang ugal-ugalan, sok pintar/ngerti/tahu padahal tingkat kedewasaan dan kesadaran diri dalam berkendara masih jauh dibawah standar – tata cara mengemudikan kendaraan bermotor. Pengendara juga tidak sadar bahwa dari sekian persen total biaya pengobatan, perawatan warga miskin akibat korban kebodohan mereka adalah beban pemerintah.

Daftar pustaka:

Badan Intelijen Negara (BIN) Negara Republik Indonesia, 2014. Kecelakaan Lalu Lintas Menjadi Pembunuh Terbesar Ketiga. Tersedia online <http://www.bin.go.id/awas/detil/197/4/21/03/2013/kecelakaan-lalu-lintas-menjadi-pembunuh-terbesar-ketiga> [diunduh 08 Agustus 2014].

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, 2012. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2012. Tersedia online <http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=17&notab=12> [diunduh 08 Agustus].

Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan (DJPP), tidak diketahui. Simplifikasi dan Reformasi Regulasi di Era Otonomi Daerah. Tersedia online <http://www.djpp.kemenkumham.go.id/htn-dan-puu/244-simplifikasi-dan-reformasi-regulasi-di-era-otonomi-daerah.html&gt; [diunduh 08 Agustus ].

Posted in Cultures | Tagged , , , , | Leave a comment

Understanding Ramadhan from the Perspective of Humanity

General understanding about Ramadhan is that it is a month where moslems people are requested to perform the fourth of five pillars in the Islamic religion. Based upon Gani (2015)’s article which is published in The Guardian, Ramadhan is” the ninth month in the Islamic calendar, …”

Many of us have thought that fasting in the holy month of Ramadhan which lasts for ≈ 30 days is nothing else than completing the fourth pillars besides performing other religious activities. Apart from the existing literature that provides us with much broader insights into Ramadhan, I’d like to shed light on it from the perspective of humanity.

Let me first cite what has been written by the world food programme (WFP) on its website, where starvation is one of the causes that can end the life of people. There are about more than 790 million of people from Africa, Asia, Latin America to the Near East that are struggling to obtain proper food. Further, you might have come across a video that documents a hunger in Africa (see the link in the reference).

To some extent, fasting encourages you to feel what other people feel when they are hungry and can’t buy food as they have no resources. Well, you probably don’t feel hungry because you can afford it at any time.

How do you feel when you’re hungry? Of course you feel like to eat. But, can you manage not to eat and drink for 18 hours while conducting your daily activities?. I doubt about it. Some say, it is impossible to be productive and yeah no way jose or give it a try. I myself found it haaarrddd…

Now I’m waiting for my sauuuurrrr time.

References:

Gani, Aisha., 2015. Ramadan: A Guide to the Islamic Holy Month. The Guardian,[online] 24 June. Available at:<http://www.theguardian.com/world/2015/jun/17/ramadan-guide-to-islamic-holy-month-muslims-fast> [Retrieved 20 June 2015].
TrivaniNZ, 2010. Sponsor a Child: Shocking Scene of Three Starving Kids in Africa Part 1. Available online at: <https://www.youtube.com/watch?v=H7-7BT33PnY> [Retrieved 20 June 2015].
World Food Programme, 2015. Hunger Map 2015. [online] World Food Programme. Available online at: <http://www.wfp.org/content/hunger-map-2015> [Retrieved 20 June 2015].
Posted in Cultures | Tagged , , | Leave a comment