Kenapa Memilih Melanjutkan Kuliah di Swiss?

Hallo Semuanya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Swiss adalah sebuah negara yang menjadi pusat atau tempat perwakilan organisasi dunia, dimana tidak sedikit jumlah mereka yang berkantor di Swiss, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Palang Merah Internasional (PMI), dll. Selain itu, Swiss juga menjadi salah satu kiblat untuk dunia perbankan. Bagi kalian yang suka dengan dunia perbankan pasti tahu bahwa perjanjian Basel atau lebih dikenal dengan Basel Accord itu dibuat dan disetujui di kantor pusat Bank for International Settlements di kota Basel.

Ok gaes, kali ini saya akan berbagi pengalaman dengan kalian tentang alasan-alasan saya memilih untuk melanjutkan studi di salah satu universitas di Swiss. Tapi sebentar, apa sih tujuan saya berbagi pengalaman dengan kalian?. Well, tujuan saya berbagi informasi tidak lain yaitu untuk memberi gambaran secara umum kepada kalian sebelum kalian memutuskan untuk daftar menjadi calon pelajar di salah satu universitas baik di dalam maupun luar negeri.

Namun, sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya. Menurut kalian, seberapa penting melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap universitas-universitas yang kalian inginkan sebelum mendaftar untuk menjadi calon mahasiswi/mahasiswa?. Kemudian, apa sih motivasi dan tujuan kalian kuliah terlepas dari nama dan letak universitasnya?.

Kalian mungkin pernah mendengar atau mengetahui bahwa ada beberapa dari kalian yang merasa terpaksa kuliah, karena mengikuti saran dari orang tua atau anggota keluarga lainnya. Kalau saya tidak merasa terpaksa sih, tapi misalnya nih ya orang tua atau anggota keluarga saya memberikan saran yang sedikit banyak maksain supaya saya kuliah di universitas X dan mengambil jurusan Y di  fakultas tertentu. Dasar alasan mereka mungkin baik menurut mereka sih sebab nantinya akan dapat menambah nilai pada diri saya setelah lulus. Padahal, saran mereka bisa jadi tidak sesuai dengan minat dan kemampuan intelektual saya. Iya kan?.

Namun, karena saya juga masih dibiaya oleh orang tua atau keluarga besar saya, maka saya tidak punya alasan untuk menolak saran mereka yang sedikit banyak memaksa hehe. Lalu apa konsekuensinya ketika saya menerima kemauan mereka begitu saja? Well, konsekuensinya adalah yang jelas saya ada beban psikologi karena saya kuliah bukan atas dasar ketertarikan, minat saya pribadi tetapi atas dasar kemauan orang tua atau keluarga. Kira-kira masih ada nggak ya hal semacam ini terjadi di Indonesia?. Mungkin masih dan mungkin juga tidak eksis lagi. Well, jawabannya saya serahkan ke kalian deh.

Terlepas dari siapa yang akan menanggung biaya selama kalian menjadi mahasiswa/mahasiswi, tentunya seperti saya kalian punya pemikiran tentang beberapa hal sebelum mendaftar sebagai calon mahasiswa, seperti nama universitas, letak kampus dan negara mana yang sesuai harapan kalian sendiri. You know bahwa setiap individu kan punya tujuan dan ekspektasi yang berbeda-beda. Selain hal tersebut, kalian juga akan mikir berapa biaya kuliahnya, sewa tempat tinggalnya, biaya kehidupan, biaya jalan-jalan pada saat musim liburan kuliah datang, dan biaya lain-lain.

Baik, cerita sebelum saya melanjutkan kuliah di Swiss itu berawal dari kuliah saya di Universitas Surabaya (UBAYA) di Fakultas Bisnis dan Ekonomika dengan konsentrasi Manajemen Keuangan di program internasionalnya yaitu International Business Networking. Pada saat akhir semester 4 saya mengirimkan beberapa dokumen persyaratan ke Universitas Applied Science (UAS) di Swiss. Harapan saya saat itu yaaa kalau di terima ya senang dan lebih senang lagi jika diperbolehkan langsung ke semester 5 ya senang, tapi kalau tidak yaaa gak apa-apa. Secara pribadi saya sangat puas dengan kurikulum pendidikan di Universitas Surabaya. Lebih-lebih para pengajar di UBAYA sangat profesional. Jadi, kalau kalian suka studi di bidang bisnis dan ekonomi, dengan konsentrasi manajemen keuangan di program internasional yang dimiliki UBAYA saya sarankan kalian kuliah di sana.

Kemudian, di awal semester 5, saya menerima surat elektronik balasan dari University of Applied Sciences Northwestern Swirtzerland yang mengkonfirmasi bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di universitas tersebut. Ada hal yang mengejutkan saya adalah bahwa hampir semua kredit perkuliahan saya di UBAYA dikonversikan ke prodi yang saya minati, yaitu di Fakultas Ekonomi dengan konsentrasi Keuangan. Well, case saya mungkin berbeda dari case yang lainnya. Dalam surat konfirmasi itu dinyatakan bahwa saya diperbolehkan mengikuti semester 4 dan saya dibebani 12 SKS di semester itu. Semestinya sih saya tetap dibebani jumlah SKS yang nomal, yaitu 30 SKS. Karena standardnya S1 di Swiss itu ditempuh selama 3 tahun dengan jumlah total 180 SKS.

Kenapa memilih melanjutkan kuliah di Swiss? Baik, saya akan menjelaskan alasan-alasan saya memilih melanjutkan studi di University of Applied Sciences Northwestern Switzerland. Ada empat alasan yang paling utama:

1. Kualitas Pendidikan untuk jurusan yang saya minati, yaitu Manajemen Keuangan.

Alasan umum saya adalah negara Swiss menjadi salah satu pusat manajemen perbankan dan keuangan dunia dan alasan khusus saya adalah bahwa dengan belajar di negara yang menjadi pusat manajemen perbankan dan keuangan, saya akan mendapat ilmu pengetahuan lebih termasuk penerapan teori-teori dari para pengajar di universitas applied sciences. Karena beberapa dosen tidak hanya memiliki pengalaman di bidang akademik namun juga sebagai praktisi di industri keuangan dan perbankan. Ada juga pengajarnya berasal dari institusi semacam kalau di Indonesia itu Otoritas Jasa Keuangan. Jadi ini yang menjadi motivasi inti saya memilih melanjutkan studi di Swiss.

2. Biaya
Biaya kuliah di Swiss, memang lebih mahal sih jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Jerman dan Prancis. Untuk S1 pelajar lokal dibebani biaya sebesar 700 Sfr/semester atau sekitar 9 juta/semester dengan kurs 13 ribuan per swiss franknya. Sementara untuk mahasiswa asing dibebani biaya kuliah sekitar 5,000 Sfr atau 65 juta/semesternya. 

Tetapi, biaya kuliah di universitas negeri di Swiss tergolong lebih murah looh dibandingkan dengan biaya kuliah di negara seperti Australia, Inggris, dan bahkan Amerika. Coba kalian juga cek ulang karena bisa saja biaya kuliah berubah sewaktu-waktu.

3. Keamanan dan Kenyamanan Negara
Dari sisi keamanan, kalian tahu bahwa Swiss adalah negara yang sangat netral. Artinya tidak ikut campur urusan perpolitikan luar negeri seperti mengirimkan prajurit-prajurit perangnya ke negara lain yang memiliki konflik.

Tapi, apakah tidak ada kejahatan di Swiss? Yaa menurutku sih dimana-mana ada orang baik pasti ada juga orang yang punya niatan atau prilaku jahat. Sepengetahuan saya sih kejahatan atau criminal di Swiss tidak begitu banyak terdengar seperti kejahatan di negara tetangga atau di amerika.

Jadi… Swiss adalah negara yang aman dan nyaman untuk belajar. Oleh karena itu tidak heran apabila banyak dari organisasi internasional berpusat atau memilih Swiss untuk dijadikan sebagai kantor pusat atau kantor perwakilan organisasi internasional.

4. Budaya 
Budaya di Swiss merupakan budaya yang unik menurut saya, karena memiliki empat bahasa nasional yang berbeda seperti Jerman, Prancis, Itali, dan Romansch. Yang paling sering dipakai komunikasi oleh kebanyakan penduduk di Swiss adalah Jerman, Prancis dan Itali, karena penduduk yang berbahasa Romansch jauh lebih sedikit daripada penduduk yang menggunakan 3 bahasa nasional tersebut.

Rata-rata teman kuliah saya yang asli Swiss bisa 2 – 3 bahasa nasionalnya plus bahasa Inggris atau Spanyol. Percaya diri, pekerja keras, disiplin, tepat waktu mereka adalah salah satu percontohan budaya mereka yang saya bisa tiru untuk memperbaiki kekurangan diri saya.

Rangkuman dari pengalaman ini adalah bahwa sebelum saya memutuskan untuk menyiapkan kelengkapan administrasi yang diminta oleh pihak universitas baik sewaktu saya mendaftar di UBAYA maupun di Universitas Applied Sciences di Swiss, saya sudah melakukan penelitian tentang reputasi universitas, metode pengajarannya, kurikulumnya, para pengajarnya serta dan di mana para alumninya bekerja atau di industri apa para alumninya berprofesi.

Intinya sih sebelum memutuskan kuliah khusus di luar negeri itu ya kalian harus ingat kembali pada motivasi kalian sendiri kenapa belajar di luar negeri dan untuk apa sih. Kalau hanya untuk gengsi-gengsian mendingan tidak ya.

Setelah lulus S1 saya melanjutkan S2 di universitas yang sama dengan konsentrasi yang sama juga, yaitu manajemen keuangan. Next artikel tentang biaya-biaya pengeluaran baik untuk kuliah maupun keperluan pribadi.

Oh ya gaes, saya kasih link channel YouTube saya untuk bahasan ini ya. https://youtu.be/N3Qi3yUU4J0

Sekian dari saya ya, jika suka silahkan di like, share, komenin yaaa 🙂

Terima kasih dan sampai berjumpa lagi.
Didi Le Javanais

Posted in Education | Tagged , , , | 7 Comments

Imigran Kemroh di Beaucaire, Prancis Selatan

Guys, aku mau berbagi pengetahuan tentang perjalananku di suatu kota kecil di Prancis bagian selatan.

Perjalananku hari ini (baca: 28.12.2015) di salah satu kota kecil di Prancis selatan dimana walikotanya berasal dari partai politik yang sangat rasis terhadap imigran. Kebanyakan penduduk di kota ini sebelumnya adalah imigran baik dari negara bekas jajahannya Prancis maupun imigran dari negara yang berbahasa arab.

Mendengarkan cerita penduduk setempat yang aseli Prancis, aku sedikit herna karena seyognya imigran dimana-mana seharusnya berbaur dengan penduduk setempat agar hubungan antara warga setempat menjadi guyub. Tapi, kenyataannya tidak demikian, dimana para imigran kebanyakan sulit diajak berintegrasi dengan budaya lokal Prancis.  Dikatakan bahwa para penduduk imigran ini lebih suka berkelompok dengan komunitasnya daripada dengan penduduk setempat. Aku selah sebentar cerita penduduk setempat, apakah boleh saya katakan bahwa mereka ini lebih nyaman dengan penduduk imigran lainnya karena merasa serumpun. Jawabnya, iya. Meskipun demikian, generasi baru dari para penduduk imigran ini mampu berbasa Prancis dengan baik. Kenapa bisa demikian, tanya saya kepada penduduk setempat. Karena generasi baru dari penduduk imigran kebanyakan tidak bisa bahasa arab meski mereka menganggap bahwa mereka keturunan arab. 

Kalau menurutku sih sangat aneh kenapa mereka tidak berbaur dengan penduduk setempat lainnya yang tidak serumpun dengan mereka. Jika hanya bangga dengan ras-nya sih agak konyol karena apabila mereka ke negara yang berbahasa Arab tidaklah mungkin mereka dianggap bagian dari warga setempat, dengan alasan mereka tidak bisa bahasa Arab. Di sisi lain, di Prancis dimana kebanyakan mereka dilahirkan tidak bisa berbaur dengan penduduk lokal tapi bisa berbasa Prancis.

Lalu apa yang dapat aku simpulkan di sini. Baik, sebagai warga yang latarbelakang sebelumnya adalah masyarakat pendatang dari negara jajahan Prancis maupun pengungsi dari negara-negara berbahasa arab, tidak baik untuk kehidupan bermasyarakat mereka jika tidak berbaur dengan masyarakat sebelum para imigran dan pengungsi yang akhirnya mendapatkan hak sebagai warga negara Prancis.

Status sosial mereka kadang menjadi pertanyaan tersendiri karena gak jelas. Prancis bukan tapi bisa basa prancis Arab pun juga tidak karena tidak menjadi bagian dari warga negara asal nenek moyang mereka. 

Jadi keingat kasus-kasus di Indonesia dimana banyak orang yang mengaku Pribumi. tapi bahasa pribumi sendiri tidak mereka ketahui seperti apa. Contoh kalau kita mengaku-ngaku keturunan orang jawa, bali, maluku, dsb. tapi gak bisa basa daerah tersebut kan ya gak lucu. Lebih aneh lagi dan gak lucu lagi, ketika kita ingin diakui dalam sebuah komunitas yang kita sendiri tidak bisa dan ngerti bahasanya. Untungnya bahasa pemersatu bangsa kita adalah bahasa Indonesia, tapi coba gak bisa basa Indonesia tapi ngakunya orang Indonesia. 😀 😀 

Penduduk Indonesia harus berbenah diri kalau tidak waaah bisa ketularan para imigran yang tidak memiliki budaya yang sama dengan kita yang dapat mengancam integritas bangsa dan negara. Jadi, kitanya harus tidak mudah terpengaruh dengan misal berita yang gak jelas tentang mereka yang katanya yeah memiliki kesamaan dalam urusan kepercayaan.

Kembali kepada pengalaman ku selama 3 malam di kota kecil ini dimana diceritakan bahwa tingkat kriminalitas semakin tinggi apabila pendatang tidak mendapatkan pekerjaan. Ada salah satu dari beberapa rumah yang tidak dihuni pemiliknya (pemiliknya memiliki rumah lagi di kota lain) seringkali mendapati pintu rumahnya dijebol oleh maling. Dilaporkan ke polisi juga katanya percuma, karena tidak ada yang berubah setelahnya. Penduduk setempat menyebut kota mereka itu tidak berbeda dari kota penyamun dimana banyak sampah berserakan dimana-mana. 

Nantinya (tidak tahu kapan) aku akan berkunjung ke kota ini karena kota kecil ini memiliki sejarah yang menarik untuk aku ketahui dan kalian pasti ingin tahu juga bagaimana bangunan bersejarah terawat hingga saat ini.

Sekian dulu ya…

Cheers
Siswantoyo
Posted in European Countries | Tagged , , , , | Leave a comment

Sunday Lunch With Red Shrimps Curry

Hello guys

It’s Sunday 20.12.2015. I’m wondering about the kind of food I can prepare for the family of a colleague of mine. The host has a pack of shrimp that has been defrosted since yesterday. I was a bit nervous, say, if my cook doesn’t taste good though it’s not my first time cooking such an Indonesian meal since I’ve been living abroad.

To start with, I checked whether or not the ingredients I need were available. Voilà, this red shrimps curry that I was just talking about 😉 .

Ingredients:
1. Shrimps 500 grams
2. Sunflower oil
3. Garlics and onions
4. Red curry powder
5. Salt
6. Pepper
7. Coconut milk – 250 ml
8. Love

Apparently, I have all I need guys. Now the question is, how to cook it? Still curious… I bet No. You guys just curious about how it tastes huh! Haha admit it-laaah !! 😉 Well, how to cook it is very simple; first, fry the chopped garlic till they turn to brown.  Second, put the chopped onions in the frying pan, as you see the onion is cooked enough you put the washed shrimps till you see the colour changes to reddish.

What’s next? Hmmm should it be described guys? Yeah you better invite me hey?  Okay 😉

image

Superb Delicious of Indonesian Red Shrimps Curry

To enjoy the aforementioned food, I also cooked some rice. Without owning a rice cooker, the rice can still be well-cooked hey. Things that are seemingly impossible are possible in today’s life. You know that it’s again how to optimise the available facility without complaining about it too much.

The following salad (see the below photo) isn’t prepared by me, but the mother of my colleague. I must confess that she was very good at cooking. I will learn from her how to cook French or any European food so that I can practice when I return home.

image

Salad de Légumes 😉

I have seen her preparing the salad and I said to myself that I would certainly do it my own next time. It’s very simple preparation, but hey it turns out very deliciously guys. 😉

That’s our lunch menu today. Yeah I love cooking guys! You can copy paste it but cite me okay, otherwise I will sue you for the plagiarism. LOL

Cheers
Siswantoyo

Posted from WordPress for Android

Posted in Hobbies | Tagged , | 2 Comments

Welcoming Christmas in Valence, France

image

Perhaps one will never find a special presentation in welcoming the Christmas holiday at a place where the inhabitants were born. Regardless of the place you guys were born, the tradition will never want to change because the values are unforgettable, where most of them have good memories for instance good friends to remember, favourite places to hang out at, etc.

This time, I come to visit a place whereby most of the inhabitants who happen to work outside their town haven’t returned home yet (it’s still too early to start a holiday for workers, not like me as a student who happens to possess a freedom). Therefore, it still looks quiet but I bet this place would be packed very soon, they’ll hang out in the city center. I would witness it by the way.

Cheers
Siswantoyo

Posted from WordPress for Android

Posted in European Countries | Tagged | Leave a comment

Geneva at 20:00

img_20151216_214238.jpg

You know what guys,?! Okay I’m going to tell you about something that it doesn’t exist in my country of origin. Frankly speaking, I actually rarely walk around but yesterday 16/12/2015 I decided to go out of my tiny flat for one and half hour walking in the nearby city – namely Carouge 😉

It’s very common to see the weather forecast as I’m living in this country for some years due to my academic life. Well, the weather was forecasted that it would be mild – meaning that it wouldn’t be too cold, which was apparently true huh. I enjoy walking nowadays and occasionally I capture some picts just for fun. However, I now wanna share it with you!! Wishing you guys like it.

Some colleagues of mine do like the picture I posted on my Facebook wall. They also commented that the circumstances won’t exist in the country where they live in. One says that it’s time for the so called “kuntilanak” to turn up. The last sentence was just meant for a joke so don’t take it too seriously. The kinda ghost isn’t real. Well, that how the situation Geneva looks. At 20:00 you won’t see inhabitants hang out especially it’s during winter time.

Cheers
Siswantoyo

Posted in European Countries | Tagged | Leave a comment

Beberapa Tantangan Belajar Pada Universitas di Swiss (3)

3. Nilai Ujian Akhir Semester

Guys, ujung daripada sebuah matakuliah yang sudah diajarkan dan diujikan tidak lain adalah nilai. Siapapun mahasiswa/wi-nya akan berharap mendapatkan nilai yang maksimal. Di Swiss, nilai maksimal ada 6 dan minimal 1. Untuk tingkat kelulusan, mahasiswa/wi harus bisa mengumpulkan minimal nilai 4.

Untuk mendapatkan nilai 6 di kampus saya belajar tidaklah mudah. Wuih jangankan untuk itu, untuk lulus suatu matakuliah saja sulit. Rata-rata untuk anak yang tergolong encer otaknya mendapatkan nilai 5. yang jenius ya 5.5 atau 6. Oh iya, tidak ada ujian tengah semester disini.

Hasil dari UAS adalah nilai akhir yang jarang sekali dikombinasikan dengan poin tambahan. Jadi hampir 95% nilai dihasilkan dari UAS. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa aktif maupun tidak aktif, kalian tidak akan mendapatkan nilai tambahan kecuali sudah tertera dalam uraian matakuliah tertentu. Tapi, kalaupun tidak ada tulisan tambahan poin seperti yang saya maksudkan, mahasiswa/wi tetap diminta aktif. Beda kan dengan universitas di tanah air. Absensipun tidak ada nilai tambahan seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Jadi, banyak dari matakuliah yang diujikan menjadi tolak ukur lulus tidaknya mahasiswa/wi.

Bisa kebayang kan gimana menantangnya kuliah disini karena bukan hanya tidak mengenal UTS seperti di universitas di tanah air, tapi juga nilainya 100% murni dari UAS. Lalu bagaimana jika ada mahasiswa yang tidak lulus suatu matakuliah? Yaaa mahasiswa/wi harus mengulang ujiannya pada akhir semester selanjutnya. Misalnya setelah mengulang tapi gagal lagi, apa yang akan terjadi? Yaa.. selesailah harapan untuk melanjutkan kuliah di universitas saya. Tapi, hal ini sangat jarang terjadi, kecuali mahasiswi/wa-nya gak belajar. Kalau ujian ke-dua tidak lulus, mahasiswa/wi tersebut tidak boleh lanjut kuliah tidak hanya pada universitas saya tapi juga di seluruh universitas di negara ini. Alhasil, siapapun dia kalau ingin mendapatkan gelar S1/S2 dari universitas harus kuliah di negara tetangga.

Sekian ya bagi pengalaman saya dengan kalian. Semoga membantu kalian untuk belajar dengan rajin.

Cheers 😉

Posted in Education | Tagged , , | Leave a comment

Cara mempertahankan profesi dalam persaingan dunia kerja

Percaya atau tidak, sebagai praktisi bisnis saya tahu bahwa persaingan di dunia bisnis itu teramat ketat. Perusahaan mencari cara dan mempraktekkan strategi yang mereka percayai akan membuahkan hasil dan mendongkrak pangsa pasar bisnis mereka. Berbicara tentang strategi dan cara perusahaan satu dan lainnya tidak akan ada habisnya, sebab mereka dituntut selalu up to date. Maksudnya, mereka dituntut mengerti perkembangan yang ada di pasar.

Seperti halnya perusahaan yang dipenuhi dengan persaingan. Para eksekutif, pekerja administrasi, dll. juga mengalami hal yang sama. Baik, catatan saya ini hanya sekedar penyemangat kalian agar tetap bisa bersaing dengan pendatang baru pada dunia kerja. Mereka (baca: pesaing kalian) siap menggantikan profesi atau jabatan kalian, karena mereka lebih agresif dan memiliki semangat lebih tinggi dan keahlian daripada kamu. Pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki mungkin saja akan sangat dibutuhkan oleh menejemen perusahaan kamu bekerja.

Semakin banyaknya kompetisi di dunia bisnis tidak menutup kemungkinan akan bertambah banyaknya pula pengusaha-pengusaha yang mencari calon-calon pegawai. Mereka ini yang nantinya tidak hanya diharapkan mampu menjadi mesin pencetak pendapatan perusahaan, namun juga bisa berinovasi dan menginterpretasikan kesempatan di lapangan. Informasi dari lapangan disampaikan kepada para manajernya dan nantinya informasi-informasi itu akan dipakai untuk perencenaan dan keputusan stratejik. Sehingga perusahaan tidak hanya bisa bertahan, namun mampu berkembang besar serta memiliki pangsa pasar yang lbh banyak dibanding dengan pesaing-pesaingnya.

Sudahkah kalian mengupdate keahlian dan pengetahuan dibidang yang kalian tekuni atau bidang lainnya yang baru? Kelangsungan karir kalian bisa terancam jika kalian tidak mampu bersaing dengan pendatang-pendatang baru yang siap menduduki zona nyamanmu?.

Selanjutnya, tidak sedikit para pengusaha memberhentikan kalian dari perkerjaan saat ini dengan berbagai macam alasan. Jadi jangan sampai hanya karena kalian sudah diniliai tidak bisa produktif lagi. Well, pada dasarnya pengusaha tidak akan berkata demikian secara langsung. Masalahnya adalah, kalian sadar diri tidak kalau keahlian kalian saat ini masih atau tidak sedang dibutuhkan oleh perusahaan?

Mengenai keahlian baru yang tidak selinier dengan profesi kalian saat ini, aku sih hanya sekedar mengingatkan saja bahwa risikonya juga lumayan (maksudnya lumayan tidak seksi untuk para pengusaha secara kalian baru dalam bidang tertentu) loh. Namun, jika kalian bisa mengkombinasikannya dengan keahlian atau profesi kalian saat ini. Maka kalian akan menjadi orang yang dicari-cari oleh pengusaha.

Sekian dulu ya catatan dari saya. Semoga bisa bermanfaat. Semoga berhasil dan sukses dalam memperbarui keahlian kalian!

Cheers
Siswantoyo

Posted in Miscellaneous | Tagged , , | Leave a comment

Beberapa Tantangan Belajar Pada Universitas di Swiss (2)

2. Tugas Mata Kuliah Dari Para Dosen

Sebelum saya memulainya, secara umum perlu kalian ketahui bahwa tugas yang didapatkan dari Dosen, tidak peduli apakah Dosen kalian killer atau bukan. Karena, dosen-dosen kalian memberikan tingkat kesulitan yang sama dengan teman sekelasmu. Dosen kalian itu ingin melihat seberapa produktif atau luas pola pikir yang kalian miliki.

Mengenai tugas, kebanyakan tugasnya adalah melakukan penelitian baik secara kelompok maupun perorangan. Semua riset tadi diakhiri dengan presentasi di depan kelas.

Cerita nyata, sebagian kecil dari teman-teman kuliah saya tidak paham dengan metode penelitian ilmiah. Jadi ketika ada kerja penilitian kelompok, kami saling berkenalan setelah itu saya berikan pertanyaaan kepada teman kelompok kerja saya, apakah mereka terbiasa dengan pola penilitian di universitas kita. Saya beritahu kepada mereka bahwa disini untuk tugas riset dosennya sangat teliti. Jadi sekali mahasiswa kedapatan melakukan plagiat, maka yang bersangkutan harus mengulang. Dalam tugas riset, mahasiswa/wi diuji sejauh mana keahlian mereka dalam mengekspresikan pemikiran kedalam tulisan berbahasa Inggris. Tulisannya harus masuk akal. Contoh tulisan yang nggak masuk akal adalah membahasainggriskan bahasa pertiwi mereka/kami. Waah kalau sampai ini terjadi, maka kalian harus menerima kenyataannya–antara nilai jelek dan tidak lulus.

Selain dalam tulisan, pada saat presentasi di depan kelas kemampuan bahasa inggris kalian juga akan diuji. Jadi kalau penyampainnya tidak jelas maka mahasiswa/wi dan dosen yang berada di kelas tidak akan mengerti.

Alhamdulillah, banyak teman saya tidak hanya bisa satu dan dua bahasa saja. Juga mereka kebanyakan tidak hanya dari satu negara saja. Ada yang dari Inggris, Kanada, Jerman, Swiss, India, Ekuador, Brazil, Cina, dll. Dalam sesi tanya jawab, misal jawaban dikemukakan adalah hasil dari ilmu ngarang maka jangan heran jika penanya akan meminta referensinya. Jadi ketahuan kan antara yang ngarang dan tidak.

Tugas riset itu butuh referensi yang kredibel, bisa dipercaya, dll. Juga, tugas yang saya selesaikan tidak semuanya asal selesai dan sesuai dengan deadline. Referensi buat saya adalah sangat penting karena dengan sumber yang saya presentasikan bisa dipercaya, saya tidak dinilai ecek-ecek oleh teman sekelas dan juga dosen saya.

Seperti apakah sumber berita yang bisa dipercaya? Yaa silahkan bertanya kepada dosen/pengajar kalian.

Sekian dulu, kapan – kapan kita sambung lagi.

Cheers

Siswantoyo

Posted in Education | Tagged , | Leave a comment

Jenewa, Swiss

Sekarang aku ingin mencoba berbagi sedikit pengetahuanku tentang satu dari 5 kota paling mahal se-jagad menurut Tore (2014), Genève dalam bahasa prancisnya, Jenewa bahasa Indonesianya. Tentang bahasa sehari-hari, mahalnya sewa apartemen, jernihnya sungai, ramahnya orang jenewa, dll.

Bahasa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa Prancis. Aku tidak menemukan kesulitan berarti sebab aku bisa bahasa Prancis, meskipun masih kurang wow dibandingkan dengan orang Jenewa sendiri. Lebih tepatnya, untuk sekedar bertanya-tanya dan bicara topik yang ringan, tidak masalah.

Populasi di Jenewa 2 kali lipatnya kota Basel atau ± > 400 ribu orang (Cantontal Office of Statistics (OCSTAT), 2015).  Kota international dimana ada banyak organisasi dunia yang berpusat disini, seperti organisasi perserikatan bangsa-bangsa (PBB), organisasi perdagangan dunia (WTO), organisasi kesehatan dunia (WHO), organisasi palang merah dunia, dsb. Meskipun masyarakatnya berbahasa prancis, rata-rata mereka sangat bisa berbahasa inggris karena kota internasional so tidak mungkin kan kalau mereka tidak bisa bahasa internasional.

Jangan salah ya, untuk mencari tempat tinggal saja lumayan sulit – maksudnya sulit karena budget sewa apartemen perbulannya itu sekian ribu Swiss Franc. Perbedaan harga sewa tempat tinggal di Basel dan Jenewa sangat jauh (biasanya 100% kenaikannya). Sebagai contoh, untuk menyewa satu unit apartemen dengan luas ± 65 m2 (baca: dua kamar tidur, satu ruang tamu, toilet, dapur, gudang kecil) di Basel seharga 17 jt perbulannya. Dengan kondisi yang sama di Jenewa bisa seharga 34 jt per bulan. Harga itu adalah untuk gedung apartemen yang lumayan lama bangunannya. Tapi, kalau satu unit apartemen dihuni 3 manusia penyewa apartemen ya jatuhnya tidak terlalu mahal kan.

Seperti di Basel yang ada Rhein-nya, atau sungai. Di Jenewa juga ada Rhône (maaf yee susah nulis untuk baca bahasa prancisnya). Kemarin aku berenang di Rhône, airnya sangat jernih. Aku tergoda setelah melihat beberapa orang berenang, hmmm airnya brooo, siiiist… seger bingitz. Dengan suhu udara yang mencapai 38°C rasanya pas deh untuk menyegarkan ragaku. Dua kali aku terjun dengan kacamata Oakley-ku, hmm segarr deh. namun terjun yang kedua aku harus menyesal karena kacamataku hilang kebawa arus. 😦

Rhône de Jonction, Geneva

Source: Author, Rhône de Jonction, Geneva, 2015

Source: Rhône de Jonction, Geneva, author (2015)

Source: Author, Rhône de Jonction, Geneva, 2015

Aku tidak mengada-ada kann, karena kalian bisa lihat sendiri betapa jernihnya air Rhône itu.

Nanti aku lanjutin ya sharing-ku. Sekarang let me have my breakfast lalu aku lanjut lagi ke universitas Jenewa untuk belajar di perpustakaannya. enak dingin ada ac-nya daripada belajar didalam kamarku yang panas karena faktor suhu udara yang masih mencapai 38°C.

Sampai nanti…

Daftar Pustaka

Centrumlotow, tidak diketahu. Jet Fountain in the lake of Geneva. Tersedia online di <http://centrumlotow.pl/wp-content/uploads/2013/07/genewa.jpg > [diunduh 6 Juli 2015].

Republic and Canton of Geneva, 2015. Mémento Statistique Du Canton De Genève 2015. [pdf]. Tersedia online di <http://www.ge.ch/statistique/tel/publications/2015/donnees_generales/memento/dg-ms-2015.pdf&gt; [diunduh 06 Juli 2015].

Posted in European Countries | Tagged , , , | Leave a comment

Basel-Stadt, Swiss

Semua pasti tahu Swiss, negara kecil yang sangat maju dengan pendapatan perkapitanya yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya, seperti Amerika, Belanda, Jerman, Prancis, dan beberapa negara maju disekitarnya dengan beberapa negara yang manjadi pengecualian. Tapi jangan bangga dulu, sebab semua kebutuhan hidup di Swiss teramat sangat mahal dibandingkan dengan beberapa negara tersebut, pakai bingitz deh ini kali.

Penduduk di Swiss berjumlah total kurang lebih 8 juta orang dari total 26 kanton. Sebagai negara yang sangat demokratis, setiap Kantonnya punya hak otonomi daerah. Memiliki bendera kanton yang berbeda-beda, tetapi hanya ada satu nasional. Swiss memiliki total 4 bahasa resmi, yaitu German, Italy, Prancis dan Romansch. Oh ya, sebagai tambahan saja, rata-rata penduduk Swiss juga bisa bahasa Inggris walaupun bukan bahasa nasional. Keren gak?! Yaaaa pasti keren dooong. 😉

Universitasku memiliki 5 kampus yang terletak di beberapa kanton lhoo. Salah satunya di kanton Basel dan Solothurn. Aku sering commute dari tempat tinggalku – Basel ke kampus yang berada di Olten. Olten adalah kota kecil dibawah kendali Kanton Solothurn. Kalau ada mata kuliah diajarkan di kampus Basel yaa itu keuntunganku. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Karena banyaknya Kanton, tidak mungkin aku ceritakan semuanya disini. Simply because aku tidak tinggal di semua Kanton hehe… Jadi, jika ada yang penasaran tentang Kanton lainnya please browse sendiri ya. 😉

Sekarang, let me give you a bit overview of Basel yang terbagi menjadi dua kanton, ada Basel-Stadt dan Basel-Land yang boleh dibilang secara bahasa gaulnya, Basel coret. Aku tinggal di Basel Stadt, jadi aku bagi ceritanya ya…

Kanton Basel-Stadt = Basel-Kota

Basel-Kota adalah kota kecil yang resmi berdiri pada tahun 1833. Saat ini total penduduknya yang tercatat dalam daftar sensus kependudukan adalah sebanyak 190 ribu penduduk (Kanton Basel-Stadt’s website, tahun tidak diketahui). Selain kota ini menjadi salah satu pusat kota budaya di Swiss (karena banyaknya museum seperti historical museum, museum seni dan museum lainnya), Basel menjadi kota industri farmasi (karena banyak perusahaan farmasi disini) seperti Novartis, Roche, Bayer, Syngenta, Abbott, dsb. Kota ini juga telah beberapa kali dinobatkan menjadi 10 besar kota yang paling mahal sejagad raya (Tore, 2015). Lebih lanjut, Basel-Kota terletak diantara dua pinggiran kota, Weil am Rhein (cara bacanya: wail am rain), Jerman dan St. Louis (cara bacanya: Sang Luwi), Perancis.

Aku sendiri tinggal di Basel-Kota atau nama Swiss-Germannya “Gross Basel” yang memiliki kesamaan arti seperti diatas. Adapula “Klein-Basel” yang berarti Basel-Kecil. Yang membedakan Basel-Kota dan Basel-Kecil adalah “Rhein” atau sungai. Air sungai ini bersih, hampir bebas dari polusi dan menjadi salah satu jalur transportasi untuk kemakmuran ekonomi rakyat sekitarnya. Keren kann?. Pada musim panas, banyak orang yang berenang meskipun arusnya deras tapi tetap aman. Aku sendiri sering berenang dengan beberapa teman-temanku. Airnya terasa segar bingits! Coba sendiri deh kalau kalian ingin membuktikan… Jangan lupa, pakai baju renang ya hihihi…

I was chilling out by the Rhein in Klein-Basel

I was chilling out by the Rhein in Klein-Basel. This Rhein or river separates between Gross and Klein-Basel

Secara umum kebersihan baik di Basel-Kota maupun Basel-Kecil tidak perlu diragukan, semuanya sangat bersih. Para penduduknya, baik yang musiman maupun yang “native” sangat patuh dengan peraturan-peraturan yang ada. Contoh kecilnya adalah setiap penghuni apartemen diminta untuk tidak membuat keramaian setelah jam tengah malam. Kalaupun ada pesta, misalkan ulang tahun (ULTAH). Jauh hari (± semingguan) penghuni apartemen memberikan informasi kepada penghuni lainnya tentang pesta yang akan diadakan di dalam unit apartemennya. Pemberitahuannya juga gak pakai pengeras suara kaleeee atau “loud speaker”. Cukup tulisan diatas kertas kemudian ditempelkan dipintu utama gedung apartemen. Pengumuman mereka itu diakhiri dengan permintaan maaf jika ada yang terganggu. Sopan bingits kaaannn??

Very well-managed public transport to mitigate the traffic jam

A very well-managed public transportation. It is to mitigate the traffic jam in the city

Mengintip Penataan Kota

Tata kota, waah cik amik sekali, mulai dari tanda parkir sepeda gayung, motor sampai mobil ada semuanya. Kalau salah parkir, yaa siap-siap saja kena denda jika ada polisi penertiban kota mendapatinya. “Cyclists” atau para pengendara sepeda gayuh tidak diperbolehkan menggunakan sepedanya di jalur “pedestrian” atau pejalan kaki. Jika nekad dan kedapatan polisi, maka denda menjadi kewajiban yang harus dibayar oleh cyclists. Bayarnya kemana dan berapa jumlah dendanya? Nanya yaa… waah kira-kira ya ke Bank lah, kalian pikir tunai? Nooo… Berapa dendanya dan bagaimana cara pembayarannya, aku tak tahu sebab aku tidak pernah melanggar peraturan dan tata tertib hidup disini. 😉 I’m a good inhabitant and student you guys should know that.

Mengenai sampah, setiap penduduk wajib membeli kantung plastik untuk sampah yang berasal dari dapur (baca: sisa makanan, kerak telor, bekas bumbu, dan sejenisnya). Dua kali dalam seminggu petugas pembersih sampah akan mengambil, tapi penduduk wajib menaruh kantong yang penuh dengan sampah di depan gedung apartemen. Sampah kertas dibedakan dan sekali setiap bulan, petugas kota untuk sampah kertas akan mengambil dari depan apartemen (sampah kertas harus diikat rapi) yang dihuni. Botol plastik, alumunium, botol kaca sesuai warna harus dibuang di tempat yang sudah disediakan. Sampah jenis ini akan didaur ulang.

Well-regulated city

A very well-regulated city where you can see how good the inhabitants park their vehicles are. You also see no single rubbish scatter around.

Untuk parkir mobil, pemerintah kota (PEMKOT) memiliki cara yang sangat bagus dalam berkompetisi dengan banyaknya middle income yang mampu membeli mobil. Cara jitu PemKot adalah membatasi tempat parkir gratis dengan memberikan beberapa warna garis disekitar tepi jalan di seluruh kota. Misal, garis biru adalah gratis untuk parkir beberapa jam saja. Untuk garis putih, tidak ada batasan waktu parkir. Semua pemilik mobil dimana tempat yang mereka tinggali tidak memiliki fasilitas parkir mobil akan berlomba-lomba untuk mendapatkan parkir gratis.

Parkir yang berbasis bayar baik langganan maupun permanen juga ada, namun harga sewa tempat parkir mobil itu mahal sekali ya. Berapa ya kisaran dendanya? hmmm maaf, aku dulu pernah nanya ke teman, namun sekarang lupa. Soalnya, aku pakai sepeda gunungku dan di apartemenku ada tempat parkir sepeda gratis didalam gedung pula.

Mengenai bahasa, bahasa yang dipakai sehari-hari oleh penduduk adalah Swiss-jerman dengan dialeknya Basel, of course. Tapi, kebanyakan juga warga Basel bisa bahasa Perancis karena kota ini memang terletak didua kota yang aku sebutin sebelumnya. Aku bisa bahasa prancis dan bisa bahasa jerman sedikit so tidak masalah untuk komunikasi ringan :). Penduduk di Basel sangat ramah dan mereka tidak mau peduli dengan urusan-urusan pribadi orang lain disekitarnya. Bisa aku bilang seperti ini; “your business is not my business though we are friends.” asyik kann… Misal, yang cowok mau bawa ceweknya atau sebaliknya ke apartemen dan menginap tidak ada seperti Pak/Bu RT, RW, petugas kelurahan atau polisi pamong praja yang mengganggu sambil ngetuk pintu apartement pasangan muda-mudi yang sedang bertamu/menginap, lalu bertanya hey sudah pukul 22:00 neh ayo balik, or tunjukkan mana surat nikah kalian. Layaknya bisa dibilang begini; Do whatever you wanna do as long as don’t bother the others, respect privacy!. Jangan bertanya apakah mereka tidak takut dosa. Bisa-bisa ditanya balik deh kalian, definisi dosa itu seperti apa?, kembali kepada aturan mainnya privasi, mind your business!

Oh ya, kebanyakan dari kalian pasti belum tahu bahwa Swiss adalah negara yang sangat menghargai waktu. Semua urusan ditentukan oleh waktu dan yang mengatur waktu adalah manusia bukan sebaliknya yeee. Semuanya serba tepat waktu, dari janjian pribadi, bisnis, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi umum. Semuanya serba cepat, tepat, efisien, dengan kualitas sempurna. Wajar saja kalau aku mengalami culture shock kali pertama tinggal disini. Namun, aku tidak mau memiliki perilaku seperti sewaktu aku hidup di Indonesia so mau tidak mau harus adaptasi. Aku sukses beradaptasi yeeeyyy!! Selamaat buat aku!! menghibur diri yang baik adalah seperti itu hehe.

Sebelumnya aku tidak biasa memasak makanan sendiri, karena faktor budaya atau tepatnya “malas” yang aku bawa dari Indonesia. Namun, sekarang aku bisa masak makanan yang aku perlukan walaupun tidak se-enak masakan keluargaku di Indonesia. Hikss jadi kangen deh ama keluarga dan masakan-masakan lezatnya. Kenapa harus masak sendiri?. Well, ada alasan kuat untuk itu. Kalau mau cepat bangkrut ya beli saja makanan jadi di restoran. Dijamin kanker alias kantong kering deh dalam hitungan hari. Bayangkan sekali makan saja ±130 ribu rupiah dan harga tersebut untuk take away bukan eat in. Kelasnya di wapo alias warong pojok dan se-porsi tidak termasuk minum ya. Kalau mau yang sedikit bergaya ya makan di “restoran” dan harga se-porsinya untuk eat in ±320 ribu rupiah juga tidak termasuk minum. Kalau pas kelaparan yaa porsi kecil gak cukup, apalagi yang suka makan bisa tekor tuh penyokong dana. Semuanya sangat mahal tapi keamanan, ketentraman dan kenyamanan hidup di Basel adalah jaminan pasti walaupun kadang ada kecopetan/malingan. Lumrahkan toh ada bad dan good people.

Semoga informasi ini kali bisa berguna untuk yeaaa sekedar pengganjal wawasan tentang Basel, Swiss. Masih banyak hal yang bisa aku bagikan mengenai Basel-Kota denganmu, namun sementara ini dulu.

See you next time yaaa

Cheers
Siswantoyo

Daftar Pustaka:

Kanton Basel-Stadt, tidak diketahui. Basel – One Canton, Three Municipalities. Tersedia online di <http://www.bs.ch/en/Portrait/Einleitung-Weltstadt/Kanton-Basel-Stadt.html > [diunduh 5 Juli 2015].

Tore, Ozgur., 2015. Capital of Angola is the most expensive city for expatriates. Focus on Travel News (FTN), 2015. Tersedia online di <http://ftnnews.com/other-news/27565-capital-of-angola-is-the-most-expensive-city-for-expatriates.html > [diunduh 5 Juli 2015].

Posted in European Countries | Tagged , , | 7 Comments