Jalan Sore Hari di Kota Jenewa

 

wp-image-15696706

Salut à tous

Guys, aku sengaja menyapa kalian dengan bahasa Prancis. Tahu gak kenapa? Ya supaya aku tidak lupa dengan bahasa asing ke 2 yang sedang aku pelajari. Juga agar teman-teman tahu artinya ” Salut à tous ” ini seperti apa sih. Halah… itu hanya sapaan biasa yang artinya ” hai semuanya “. Sapaan begini sering dipakai pada saat menyapa teman sebaya.

Bulan September adalah bulan berakhirnya musim panas di Eropa. Swiss adalah negara yang kira-kira terletak di tengahnya Benua Eropa. Udara pada bulan September bisa berganti-ganti. Pada siang hari kadang bisa 20-23°C tapi bisa juga 7-10°C dan pada malam hari bisa turun 10-5°C. Pada bulan ini juga sudah ada salju yang turun tetapi di ketinggian 800 – 1000 dari permukaan laut. Jika cuaca sudah berubah, yang harus dilakukan oleh penduduk setempat adalah:

1. Bongkar-bongkar gudang pakaian untuk musim dingin. Seperti yang aku lakukan hehe maklum nasib perantauan yang masih berstatus pelajar

2. Jika punya uang lebih dan penduduk yang konsumtif, mereka beli baju untuk musim dingin di toko atau butik pakaian. Lalu, baju musim dingin dikemanakan? Hmmm… secara empiris aku gak tahu lah tau – dikemanakan mereka 🙂

3. Jika mau irit ya biasanya beli baju untuk musim dingin di toko penjual baju purna pakai. Hah? Yakin beli di tokoh begituan? Aku kasih tahu ya… meskipun barang bekas, tapi kualitas termasuk kebersihannya sangat terjaga. Aku sih belum pernah beli baju purna pakai.

Bagaimana rasanya menjadi warga negara indonesia yang hidup di luar negeri dengan empat musim, terutama di saat suhu udara mulai turun? Hmmm… kalian mau tahu jawabanku yang jujur atau asal aja? Hehe baiklah jujur saja ya. Sebenarnya aku diantara suka dan tidak suka. Tidak sukanya, karena setiap hari aku tidak mau salah berpakaian. Maksudnya, jika udara di dalam rumah hangat di luar rumah sebaliknya jadi harus menyesuaikan cuaca di luar rumah. Tahunya dari mana udara di luar dingin? Hey! Hari kini itu dah gak #ndesso ya… lihat di hape pintar lah hehe…

Sekarang, jawaban sukanya ketika suhu udara mulai menurun dan tidak menentu adalah aku merasa segar karena udara dingin menerpa mukaku yang jelek ini. Alhamdulillah tuhan memberikan kulit dan rasa untuk merasakan segarnya udara. Selain itu, aku tidak perlu menunjukkan badanku yang atletis, bayangkan ya ketika musim panas aku suka joging di lapangan atletik atau di sepanjang sungai hanya dengan pakai kaos tipis dan celana pendek.

Asyiknya lagi ketika musim berganti adalah melihat banyak dedaunan pada gugur, Jalan-jalan ke kota sore hari dan melihat banyak wajah-wajah yang segar. Aku sendiri suka jalan kaki ketika balik dari belajar bahasa Prancis di dalam kota Jenewa. Menyebrangi jembatan sambil mengabadikan keadaan langit yang tertutup awan gelap dan di sela-selanya ada sinar matahari. Nikmat apa yang harus aku pungkiri coba!? Ku langsung bersyukur dalam hati aku panjatkan do’a supaya aku selalu bisa berterima kasih kepada Tuhanku.

Udah sekian dulu soalnya aku mau lanjut proyek nerjemahin riset bisnis dan ekonomi berbasis bahasa Indonesia ke Inggris.

Posted in European Countries | Tagged , , | Leave a comment

Kesederhanaan dan Kebahagiaan

Selama ini banyak manusia baik yang jadi-jadian atau manusia seutuhnya dengan berbagai macam caranya berusaha untuk mencapai suatu kebahagiaan terlepas dari seberapa lama kebahagiaan dapat mereka pertahankan. Sebagian dari mereka ada yang pakai cara sederhana, pakai cara sedikit mewah dan sebagian lainnya ada yang pakai cara memaksakan diri. Semua ini dilakukan untuk suatu kebahagiaan.

Pertanyaan saya: Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri tentang definisi dari kesederhanaan dan kebahagiaan?. Jika sudah pernah, menurutmu kira-kira bagaimana mendifinisikan ke-dua istilah tersebut?. Selanjutnya bagi yang belum atau sudah pernah bertanya pada diri sendiri akan tetapi belum dan tidak mendapatkan jawabannya. Maka silahkan kamu baca tulisan sederhana ini:

Lyubomirsky (2007) dalam bukunya “The How of Happiness” mendefinisikan kebahagiaan sebagai pengalaman dari rasa kesenangan, kepuasan atau kesejahteraan yang dipadukan dengan sebuah sentuhan bahwa kehidupan seseorang itu bagus, berarti, dan bermanfaat. Lebih lanjut, kesederhanaan seperti yang disampaikan oleh merriam-webster (2017) adalah keadaan yang sederhana, tidak rumit, atau tidak terbebani.

Baik, saya tidak akan memberikan contoh konkritnya bagaimana kebahagian bisa didapatkan dengan kesederhanaan kamu sendiri atau sebaliknya bahwa dengan kesederhanaan kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Karena sederhana itu diartikan tidak neko-neko atau tidak mau terbebani. Apa yang akan kamu rasakan setelah suatu kebahagiaan yang kamu dapat melalui cara yang pemaksaan diri. Terlihat oleh orang lain memang bahagia atau kamu merasa sangat bahagia ketika dilihat bagaikan perubahan hidupmu berubah drastis. Contoh konkretnya bisa kamu cari sendiri di negara kamu. Siapa saja mereka yang kehidupannya selalu ingin terlihat bahagia dengan cara menjual ayat-ayat kitab suci agamanya. Mereka berlomba-lomba mencari ayat untuk pembenaran diri dan membohongi para jamaahnya pakai ayat-ayat dari kitab kepercayaannya.

Mereka yang mendapatkan kebahagiaan dengan cara seperti yang saya sampaikan di atas akan menyesali perbuatannya sebab yang dibohongi pakai ayat-ayat kitab suci agama perlahan-lahan akan sadar dan lapor ke divisi kriminal di kantor Polisi Republik Indonesia terdekat 🙂 dengan catatan yang tertipu daya keagamaan itu tidak merasa malu karena sudah tertipu dan dengan ikhlas memberitahukan masyarakat luas bahwa mereka sudah salah mempercayai orang yang sebelumnya dianggap mampu memberikan kebahagiaan yang mereka damba-dambakan.

By the way, photo yang saya lampirkan di sini hanya sebagai contoh bagaimana kebahagiaan dapat dicapai dengan sederhana. Saya jalan di pinggir sungai Arve dan merasakan hangatnya sinar matahari pada sore hari saat musim panas di Jenewa. Kalian lihat kan senyum bahagia saya. So ayo senyum bahagia lah kalian dan jangan mau dibohongi pakai agama yah!!

Sampai jumpa lagi pada artikel yang akan datang.

Daftar Pustaka:
1. Berkeley, University of California, 2017. What is Happiness?. Terdapat online di: https://greatergood.berkeley.edu/happiness/definition
2. Merriam-Webster, 2017. Definition of Simplicity. Terdapat online di: https://www.merriam-webster.com/dictionary/simplicity

Posted in Education | Tagged , , , | Leave a comment

Indonesian Nasi Goreng Mawut

It was Tuesday morning I went to see my dentist for the 2nd time. That day was such a hard day because my cheekbones were drilled for teeth implant. Was it painful? Aargh… if that is a question, I won’t tell the truth though. Well, of course it wasn’t painful at all at least the anaesthetic remains. Let me stop talking about the pain okay?!

Instead of listening to my dentist who advised to eat soup for at least the first day, I cooked Indonesian nasi goreng mawut. It doesn’t mean that I can’t live without eating rice, no way man. Everyone knows Nasi Goreng (Fried Rice) because it becomes one of the very common dishes in Indonesia or in Asia. However, you probably are keen to know about what “Mawut” actually means. Based on Indonesian dictionary, it means – scatter, an applied Javanese word into Bahasa – our national language.

The first time I’ve heard the name of Nasi Goreng Mawut was when I was in Semarang, Central Java. It was a business trip. Dinner time came and I went to a restaurant with my business partner. I chose Nasi Goreng Mawut. The food was served and I discovered that… it was mixed between Nasi and Noodles more or less in an equal portion then they were fried together. It contains Nasi, Noodles, Scrambleg eggs, carrots that I added to it as a creative idea.

Let’s come back to my cooking porn skills. Regardless of what the dentis said, I went to a shop and bought noodles (brand: Bali Kitchen) and back to my flat then cooked it. You don’t have to worry about my cooking skills – you can count on me. It tasted deliciously. Nonetheless, there was an issue – I couldn’t chew them with my teeth at both sides because my cheek bones had just been operated. There are some stitches in my gum. How do chew them then of course I exercised my front teeth but… oh my god it was not comfortable at all though I was full up afterwards.

Next time, let me cook you the Indonesian Nasi Goreng Mawut, but only if you’re nice with me. LoL. In the 2nd photo, you see how I decorate my plate and in the 1st photo it shows that they are ready to be eaten up. Fresh tomatoes, cucumber and Indonesian Kroepoek or chips were side dishes. The beverage is simply mixed juices.

Let me know if you like it. 😉


Posted in Hobbies | Tagged , , | Leave a comment

Sunday afternoon with Indonesian Kolak Kacang Hijau (greenbean compote)

Guys, I think I have ever told you that I like cooking whenever I have enough time to do so. Today is kinda a motivated day for me to prepare such an Indonesian dessert. 🙂

The idea of preparing Kolak Kacang Hijau with Cassava (Manioc in French language) comes to my mind when I see the rain falls. Happy to get showers cos’ the train lowers the temperature. It feels fresher than the temperature yesterday. By the way, just wanted to let you know that yesterday we had techno music parade along the lake of Geneva. I went out and participated in that event where according to one of french TV journalists, there were about 200 K party goers. The parade alone began from 15.00 and lasted at 3.00 am today.

Well, I suppose enjoying them (see photos) while working on my 200 words in french is a good idea. Buuuut, I am a bit confused though so peux tu m’aider à définir lequel je dois prendre le café ou dessert? 😛 :*

You don’t have to worry about how to prepare and cook it, because I will be sharing my recipes with you as follows:

Here are some ingredients you need to buy at your local asian store:

  1. 250 grams of greenbean
  2. 250 ml of coconut milk
  3. 300 grams of cassava
  4. 150 grams of palm sugar
  5. 800 ml of mineral water

Now, how to prepare it? Follow the instructions:

  1. Use the cooking pan to wash the greenbean
  2. When the greenbean is clean you boil 800 ml of water and pour it into the cooking pan where the greenbean are. Put it on your electric stove with heat level at 3-4.
  3. Cut your cassava into small pieces (not to small okay), wash them and put them into the cooking pan.
  4. Check them from time to time till you are sure that the greenbean and cassava are half cooked.
  5. Pour your 250 ml of coconut milk and put the palmsl sugar into the pan and stir it.
  6. Make sure the greenbean and cassava are cooked and switch off your stove okay.

Enjoy your compote either cold or warm. To me it’s just perfect weather to have Kolak Kacang Hijau when the rain comes in the afternoon.

Good luck 😉

Posted in Hobbies | Leave a comment

Keluhan Masyarakat Terhadap Kenaikan Harga Barang dan Jasa di Era Jokowi

Tidak banyak masyarakat yang paham tentang bagaimana usaha-usaha baik pemerintah pusat ataupun daerah memenuhi berbagai kekurangan yang dianggap sebagai kebutuhan  primer rakyatnya. Pada umumnya, lapisan masyarkat menengah ke-bawah seperti ini hanya berharap bahwa barang dan jasa yang mereka inginkan dapat terpenuhi tanpa harus dipusingkan lagi oleh kenaikan harga barang dan jasa di pasar.

Kebutuhan sembilan bahan pokok (SEMBAKO), dimana beras, minyak, gula, bumbu masak, telur, laukpauk, dll. termasuk di dalamnya berpotensi mengalami kenaikan harga seiring dengan banyaknya jumlah permintaan di pasar. Dapat dikatakan bahwa masyarakat lapisan menengah ke-bawah ini berkeyakinan bahwa kenaikan SEMBAKO bukan dikarenakan oleh suatu faktor yang dapat dipahami oleh nalar manusia normal secara umumnya, tetapi, disebabkan oleh para pemimpin baik daerah ataupun pemerintah pusat yang tidak punya kemampuan untuk menekan kenaikan harga SEMBAKO di pasar. Masalah penyempitan pemahaman seperti ini sudah tidak rahasia lagi karena sering dijumpai pandangan atau komentar-komentar negatif di beberapa media sosial.

Alih-alih masyarakat yang mengerti tentang hukum permintaan dan pengadaan ini membuat keadaan lebih kondusif, masyarakat yang tergolong intelek (memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata) ini dapat pula dikatakan menggunakan fenomena ini untuk memuaskan nafsu mereka dengan cara mendongkrak isu kenaikan harga SEMBAKO semakin heboh. Bagaimana cara masyarakat intelek memanfaatkan keadaan adalah dengan memberikan komentar negatif, supaya para pemimpin pemerintahan saat ini terkesan buruk dan selanjutnya para pemimpin yang tidak mereka senangi juga tidak akan mendapatkan simpati dari lapisan masyarakat tingkat bawah. Hal ini menjadi masalah ke dua dimana saya ingin menemukan dan menyampaikan salah satu solusinya.

Dua masalah tersebut merangsang saya yang pertama, adalah untuk mencoba menerangkan faktor-faktor yang  berpengaruh terhadap naiknya harga SEMBAKO dengan memberikan satu atau dua simulasi yang sederhana. Kemudian, yang ke dua  menggugah saya untuk menggunakan langkah spiritual agar rasa empati masyarakat intelek bangkit kembali.

Hukum Permintaan dan Pengadaan
Konsep hukum permintaan dapat disederhanakan seperti berapa banyak jumlah barang atau jasa yang diminta oleh calon pembeli di pasar. Banyaknya jumlah barang/jasa yang diminta akan mempengaruhi harga dari sebuah barang/jasa yang akan dibeli oleh pembeli dengan harga tertentu. Selanjutnya, karena hal ini saling berhubungan maka disebut sebagai korelasi antara harga dan jumlah barang/jasa yang diminta. Hukum permintaan akan berlaku apabila tidak ada perubahan pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah permintaan itu sendiri (baca: sederhananya, hanya ada satu macam barang/jasa yang tersedia di pasar). Jadi, jika harga suatu barang/jasa semakin mahal maka jumlah pembeli barang/jasa yang diperdagangkan di pasar akan semakin sedikit.

Konsep hukum pengadaan dapat pula disederhanakan seperti seberapa banyak jumlah barang/jasa yang harus produser sediakan di pasar untuk memenuhi kebutuhan pembeli. Banyaknya jumlah barang/jasa yang akan diproduksi atau disediakan di pasar  akan mempengaruhi harga barang/jasa itu sendiri. Selanjutnya, karena hal ini saling berhubungan maka disebut sebagai hungungan korelasi antara harga dan jumlah/barang yang disediakan. Hukum Persediaan kurang lebih sama seperti hukum permintaan, dimana harga akan menentukan jumlah barang yang akan disediakan. Yang membedakan adalah, semakin harga suatu barang/jasa mahal maka semakin banyak pengadaan barang/jasa diproduksi untuk dijual. Kenapa demikian, karena dengan menjual barang/jasa dengan harga tinggi atau mahal, penjual suatu barang/jasa akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada menjual barang/jasa dengan harga yang normal.

Selanjutnya saya akan menggunakan salah satu produk SEMBAKO sebagai ilustrasi agar Anda punya gambaran dari hukum permintaan dan pengadaan serta hubungan antar keduanya. Sebut saja si Unyil adalah pengusaha peternak Ayam berarti si Unyil ini adalah penyedia daging ayam. Si Unyil dibantu oleh karyawannya untuk menjual hasil panen ayamnya di pasar. Sesuai perhitungan, si Unyil tidak akan menjual daging ayamnya  lebih dari harga Rp 10,000 per ayam, karena jika dijual lebih mahal dari harga tersebut, sudah pasti daging ayamnya tidak akan laku.

Karena adanya suatu risiko yaitu kemungkinan biaya tambahan apabila si Unyil ternak lebih dari 100 ayam, maka dia menetapkan untuk ternak 100 ayam saja. Selanjutnya, ketika ayam sudah bisa dipanen, tiba-tiba si Unyil mendapat tambahan jumlah permintaan yang sebelumnya 100 pembeli menjadi 150 pembeli. Apa yang terjadi? Jelas, harga yang semula Rp 10,000 per ayam akan menjadi lebih mahal (katakan Rp 15,000 per ayam) karena adanya hubungan antara hukum permintaan dan pengadaan dan harga.

Karena adanya pengalaman baru di atas yaitu naiknya jumlah permintaan, si Unyil menambah jumlah ternak ayamnya menjadi 150 ayam. Namun, pada saat panen tiba-tiba si Unyil mendapatkan informasi dari karyawannya bahwa jumlah peminatnya adalah tetap 100 orang. Apa yang terjadi? Jelas, si Unyil tidak akan dapat menjual hasil ternaknya seharga Rp 15,000 per ayam seperti sebelumnya. Kenapa demikian, sebabnya adalah jumlah persediaan melebihi dari jumlah permintaan. Apa yang terjadi selanjutnya? Yang jelas si Unyil akan tetap menjual sisa ayamnya dengan harga yang mungkin saja relatif lebih murah dari Rp 10,000 per ayam untuk mengurangi kemungkinan risiko yang dia miliki.

Beberapa Faktor Penyebab Naiknya Harga SEMBAKO
Dapat dikatakan bahwa kemungkinan besar masyarakat di Indonesia mengerti bahwa kenaikan harga SEMBAKO disebabkan oleh pemerintah dan menurut saya mereka tidak salah dengan pandangan seperti itu. Kenapa demikian, karena masyarakat sering dijanjikan oleh para calon pemimpin daerah atau pemimpin pusat mereka saat kampanye politik berlangsung, bahwa harga bahan pangan akan diawasi sehingga tidak akan adanya permainan dan kenaikan  harga. Pandangan lainnya dari masyarakat adalah naiknya SEMBAKO disebabkan oleh permainan para pedagang yang ingin meraup keuntungan lebih dari penjualan mereka.

Pemerintah dapat mengawasi dan memintervensi pasar. Saya tidak perlu menjelaskan mekanismenya seperti apa sebab nanti panjaaaang sekali ceritanya. Intinya adalah keputusan naik dan tidaknya harga barang/jasa di pasar adalah ditentukan oleh jumlah permintaan dan pengadaan. Kenapa saya katakan demikian, karena ada faktor yang tidak dapat diperkirakan di pasar. Contohnya adalah, si Unyil – pengusaha peternak ayam yang tiba-tiba mendapati kenaikan jumlah permintaan dari 100 menjadi 150 pembeli disaat dia memanen ayamnya. Kemudian, si Unyil juga tiba-tiba mendapati jumlah permintaan turun disaat dia menambah ternak ayamnya dari 100 menjadi 150 ayam.

Selanjutnya, faktor kenaikan harga SEMBAKO lainnya adalah harga pakan ternaknya yang dibeli dari pabrik pakan ternak, bayangkan ketika ada demo buruh yang menuntut kenaikan upah di pabrik pakan ternak? Jika disetujui oleh pemilik pabrik maka harga pakan ternak akan naik juga. Masuk akal kan… Jika tuntutan kenaikan upah karyawan pabrik tidak disetujui oleh pemilik usaha, maka hasil produksi pakan ternak akan menurun karena karyawan pabrik melakukan demonstrasi, hasilnya adalah pengadaan pakan ternak akan berkurang padahal kenyataannya adalah pengusaha ternak ayam itu bukan hanya si Unyil, melainkan banyak tapi di tempat lain.

Faktor kenaikan harga SEMBAKO juga bergantung pada tarif listrik untuk penerangan kandang, harga bahan bakar untuk mesin motor dimana pakan ternak diangkut dari satu tempat ke tempat lainnya pakai mobil/truk/sepeda motor, dll. Yang paling mungkin sulit untuk dikatakan rasional adalah faktor nafsu, kenapa saya katakan demikian. Coba deh kalau kita tidak makan daging ayam melebihi porsi yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh kita. Kan jumlah pengadaan ayam tidak akan melebih dari jumlah permintaan ayam 🙂 🙂 hehe bener kannn? hayooo ngaku yang porsi makannya banyak…

Faktor lainnya adalah Pajak pendapatan penjualan. Jika tarif pajak penjualan lebih tinggi dari biasanya. Apa yang terjadi? Jelas, harga barang/jasa akan mengikuti naiknya tarif pajak. Pentingkah pajak dinaikkan? Di satu sisi penting, sebab pemerintah ingin membangun negeri kita menjadi lebih baik. Membangun sarana umum misalnya memperbaiki atau memperlebar atau membuat jalan baru agar masyarakat memiliki prasarana lebih nyaman, aman dan mudah untuk melakukan kegiatan peningkatan ekonomi. Di sisi lain, Pajak dapat membuat beban pengusaha karena mereka akan menambahkan tarif pajak kedalam harga barang/jasa yang akan mereka jual di pasar. Kemungkinan besar yang mereka khawatirkan adalan penjualan barang/jasa akan menurun seiring naiknya harga. Tentunya, masih banyak faktor lainnya yang tidak bisa saya sampaikan di sini…

Hentikan Penyebaran Pola Pikir Negatifmu Terhadap Kenaikan SEMBAKO
Sering kita jumpai di media sosial bagaimana negatifnya komentar atau postingan status diatas berita tentang kenaikan harga SEMBAKO dari media elektronik yang ditujukan kepada para wakil rakyat negara kita. Belum juga meme dengan konten negatif yang dibuat oleh ” mereka ” yang tak bertanggungjawab hanya untuk mendongkrak isu kenaikan SEMBAKO, sebagai kegagalan atau janji-janji palsu oleh pemerintah terutama pemerintah saat ini.

Masyarakat ini saya golongkan sebagai masyarakat intelek (memiliki jenjang pendidikan lebih baik dari masyarakat pada umumnya), dimana pada dasarnya  nalar mereka dapat dipakai untuk mengerti penyebab fenomena kenaikan harga SEMBAKO. Hanya saja mereka tidak ingin berpikir panjang karena pikiran dan hati mereka telah dipenuhi oleh ketidakpuasan terhadap pemimpin yang sedang membangun untuk peningkatan kesejahteraan warga di NKRI. Perlu saya garisbawahi bahwa NKRI itu bukan hanya di Jawa. Tapi, NKRI itu ya termasuk Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Maluku, dll.  yang ada di dalam batas teritorial negara kita, dimana perkembangan infrastruktur masih tertinggal jauh dibandingkan dengan pulau Jawa.

Sebagai masyarakat intelek, alangkah baiknya apabila kita memberikan kontribusi kepada pemerintah NKRI dengan membantu masyarakat yang berkeluh kesah untuk dapat mengerti faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap kenaikan harga SEMBAKO. Jadilah, duta-duta anak bangsa yang dapat membuat pola pikir masyarakat lainnya lebih kritis. Sehingga masyarakat tidak akan mengkonsumsi makanan yang melebihi takaran tubuh kita.

Kesimpulan
Boleh mengeluh tetapi jangan langsung menyalahkan orang lain apalagi pemerintah sendiri. Kenaikan harga SEMBAKO di pasar BUKAN DISEBABKAN OLEH Pemerintah atau PRESIDEN kita yang tidak mampu mengawasi dan melibatkan peran mereka sebagai wakil rakyat, melainkan semuanya terjadi karena KEBUTUHAN dan KEINGINAN kita yang terkadang melebih batas kebutuhan tubuh/nafsu.

Menjadi masyarakat yang intelek, seharusnya membantu masyarakat di sekitarnya untuk menggunakan nalar mereka supaya penyebab kenaikan harga SEMBAKO diketahui, bukan sebaliknya masyarakat intelek membuat masyarakat yang tidak mengerti menjadi resah, kecewa dengan wakil rakyat saat ini yang akhirnya masyarakat ini sendiri yang akan merugi. Imbasnya adalah, mereka bisa saja kehilangan semangat untuk bekerja, tidak termotivasi untuk memproduksi hal yang positif hanya karena penyebaran pikiran-pikiran yang bersifat negatif dari masyarakat intelek.

Sudah sekian saja ya… Semoga bermanfaat!!

Posted in Education | Tagged , , , , , | 6 Comments

Jangan Merusak Kepercayaan Dunia Terhadap Penanammodal Di Indonesia

Terlepas dari seberapa majunya dan berkembangnya suatu negara, berlomba untuk mendapatkan peringkat terbaik pada satu titik aman dalam meyakinkan para penanammodal adalah, bukan hal yang sangat mudah untuk dicapai oleh setiap negara. Ada banyak faktor yang harus mereka penuhi sebelum akhirnya lembaga-lembaga agen kredit memberikan credit rating atau peringkat kreditnya. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pemberian credit rating adalah tingkat lajunya penjualan bruto produk domestik, lancarnya pembayaran terhadap hutang beserta bunga hutang dalam dan luar negeri (LN). Faktor lain adalah tingkat hutang dan jatuh tempo daripada hutang negara itu sendiri (Pettinger, 2012).

Sabtu 20 Mei 2017, Indonesia mendapatkan skor peringkat kredit (SPK) atau credit  rating score BBB- dari sebelumnya BB+ dari lembaga internasional, yaitu Standard & Poor’s (S&P). Budiman (2017) menyampaikan bahwa pencapaian ini didapatkan karena adanya perbaikan terhadap pengolahan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang lebih realistis dibandingkan periode sebelum pemerintahannya.

Apa artinya nilai peringkat kredit dan kenapa menjadi suatu hal penting?
Nilai peringkat kredit atau credit rating score adalah nilai kondisi kredit perorangan atau organisasi, dimana nilainya diberikan oleh lembaga pemberi kredit setelah mengumpulkan informasi yang berhubungan kondisi kredit setiap individunya. Biasanya, nilai kredit berupa tiga angka untuk  jenis kredit perorangan dengan rentang antara 300 dan 850 atau simbul (contoh: AAA, AA+, BBB-, BB+, dll.) untuk kredit organisasi atau negara.

Nilai peringkat kredit itu sendiri bagi lembaga pemberi kredit adalah untuk membantu mereka dalam menentukan keputusan apakah calon nasabah berhak mendapatkan hutang atau tidak, jika iya, seberapa besar bunga yang akan dibebankan terhadap hutang pokoknya. Jadi informasi tentang nilai peringkat kredit ini sangat penting, karena semakin tinggi nilai peringkat kredit seseorang, maka akan semakin rendah ditolaknya proposal hutangnya juga semakin rendah persentasi bunga hutangnya, begitupula sebaliknya.

Kondisi yang sama dapat terjadi pada suatu negara. Misalnya, negara ingin mengajukan hutang kepada lembaga keuangan internasional atau hutang ke penanammodal di pasar keuangan dengan cara membuat surat berharga, surat hutang negara, obligasi, dll. Merujuk hasil baru ini bahwa (SPK) Indonesia yang semakin baik dari tahun sebelumnya BB+ atau positive outlook dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam meyakinkan penanam modal dari dalam dan luar negeri, karena statusnya yang BBB- atau stabil outlook. 

Bagaimana caranya memberikan kontribusi kepada negara?
Seperti yang sudah saya sebut di atas bahwa setiap negara selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan kepercayaan dari dunia internasional, sebab jika masyarakat dunia percaya kepada Indonesia dalam hal ini. Maka tidak mustahil para investor baik dari dalam maupun dari luar tidak ragu lagi untuk menanamkan modal mereka di beberapa sektor. Konsekuensi adalah, lapangan kerja akan semakin terbuka lebar dan tentunya tingkat ekonomi masyarakat semakin meningkat. Dengan demikian, kesenjangan ekonomi akan semakin dapat ditekan.

Pemerintah tidak akan dapat berjalan sendiri tanpa ada dukungan dari masyarakatnya. Para wakil rakyat mengajak kita semua untuk memberikan kontribusi dengan cara mendukung program pemerintah (bilamana perlu memberikan masukan yang konstruktif). Selain itu, kita dapat meningkatkan keahlian diri kita sesuai bidang. Kenapa demikian ini perlu dilakukan adalah agar pola pikir kita tidak dipenuhi oleh hal-hal yang sifatnya tidak produktif. Semakin banyak pikiran negatif pada diri kita maka kita semakin tidak produktif, dan hasilnya kita akan tidak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain.

Jika saja ada diantara kita yang tidak mampu memberikan kontribusi kepada negara, lebih baik tidak perlu membuat propaganda atau ikut-ikutan melakukan provokasi baik secara perorangan ataupun massa. Kenapa hal semacam ini tidak perlu dilakukan oleh warga negara yang cinta terhadap negaranya sendiri, adalah propaganda atau provokasi hanya akan membawa keresahan, ketidaknyamanan dan ketidakadanya keamanan yang akhirnya muncullah kesengsaraan. Ketika hal ini terjadi, jangan salahkan penanammodal atau wakil rakyat kita yang bekerja dengan serius untuk terwujudnya suatu perubahan. Namun, salahkan pada diri kita sendiri yang telah membuat keadaan semakin tidak nyaman.

Oleh karena itu, sebagai warga negara yang cinta tanah air, yang menginginkan realisasinya perubahan lebih baik dari sebelumnya maka kita harus memiliki pemikiran yang positif (contoh: menyerahkan urusan pemerintahan kepada wakil yang telah dipilih secara demokrasi dan mengawasi sembari memberi masukan sesuai koridornya) dan terus menerus membantu pemerintah untuk melakukan perubahan nyata sehingga keadilan sosial dapat dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia. Indonesia makmur coy!!

Mari bersama-sama mewujudkan Indonesia Jaya!!

Daftar Pustaka
Budiman, Aditya., 2017. Presiden Apresiasi Naiknya Rating Investasi Indonesia. Tempo. Tersedia online di: https://www.tempo.co/topik/masalah/665/peringkat-rating-investasi-indonesia Diunduh pada 20 Mei 2017

Pettinger, Tejvan., 2012. What Determines Credit Rating for Countries. Economics Help. Tersedia online di: http://www.economicshelp.org/blog/5264/economics/what-determines-credit-rating-for-countries/ Diunduh pada 20 Mei 2017

Posted in Education | Leave a comment

Implikasi Kredit Pemilikan Rumah Dengan Down Payment Nol Persen Dalam Kelanjutan Ekonomi

Tulisan ini mendiskusikan tentang kredit pemilikan rumah (KPR) tanpa uang muka yang digagas oleh Calon dan Wakil Gubernur (CA(WA)GUB) untuk DKI Jakarta dan implikasinya dalam kelanjutan ekonomi. Beberapa kali pernyataan serupa dikutip oleh banyak media cetak dan elektronik bahwa Anies Baswedan (AS) dan Sandiaga Uno (SU) akan menghadirkan program nyata untuk masyarakat Jakarta yang berpenghasilan rendah dan belum punya rumah.

Memiliki program yang berpihak kepada masyarakat lapisan bawah adalah menjadi salah satu kunci utama untuk memenangkan pemilihan kepala daerah, karena program tersebut akan dapat mengurangi kesenjangan atau ketimpangan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Namun, dari pemaparan-pemaparan CA(WA)GUB ini memunculkan keraguan tentang mekanisme dari program KPR dengan DP 0%. Oleh karena itu, melalui media ini saya memberikan ilustrasi bagaimana mungkin tujuan dari sebuah program dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat di DKI Jakarta dapat berjalan sesuai harapan masyarakat tingkat bawah, apabila calon pemimpin daerahnya hanya sekedar membuat agenda tanpa adanya rincian objektif.

Pendahuluan
Dengan adanya undang-undang (UU) No. 23/2014 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah (PEMDA) diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraaan sosial masyarakatnya. Salah satu dari kesejahteraan sosial adalah memberikan pelayanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau, administrasi kependudukan, juga termasuk memfasilitasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada masyarakat yang berpenghasilan menengah ke-bawah. KPR dapat diwujudkan dengan memberikan subsidi kepada kelompok masyarakat yang berpenghasilan tersebut di atas. Kurniawan (2016) menjelaskan beberapa poin penting yang berkaitan dengan pengajuan KPR berbasis subsidi di website Bank Tabungan Negara (BTN).

Sehubungan dengan program yang diagendakan oleh pasangan calon dan wakil gubernur (CA(WA)GUB) DKI Jakarta, dimana Anies Baswedan (AB) dan Sandiaga Uno (SU) berjanji akan memenuhi janjinya untuk mensejahterakan masyarakat DKI Jakarta yang berpendapatan menengah ke-bawah dengan tidak perlu membayar uang muka atau down payment (DP) sama sekali untuk KPR.

Sarwanto (2017) menyampaikan bahwa program KPR dengan DP 0% yang diagendakan oleh CA(WA)GUB diatas, adalah untuk memberikan solusi bagi masyarakat DKI Jakarta yang berpenghasilan menengah ke-bawah dan belum memiliki tempat tinggal. Selanjutnya, Primadhyta (2017) memberitakan bahwa masyarakat yang ingin mengajukan KPR harus menabung selama satu semester, dimana uang tabungan ini nantinya dipakai sebagai pengganti DP yang nilainya sebesar 10% dari total harga rumah. Cahya (2017) mengutip pernyataan AB disaat dia berkunjung di Dori Kosambi, Jakarta pada hari Selasa 14/3/2017 bahwa “Kredit berpihak pada rakyat kecil dan penghasilan [di]bawah Rp 7 juta [per bulan]. Program ini untuk rakyat kecil,” sedangkan pengajuan KPR akan “ diproses melalui Bank DKI Jakarta.”

Wacana kebijakan yang akan dibuat oleh CA(WA)GUB tersebut mengingatkan saya terhadap kebijakan pemerintah Prancis pada tahun 1965 – 1984, dimana penduduk Prancis yang berpenghasilan rendah saat itu akan mendapatkan KPR dengan cara disubsidi oleh pemerintah. Hanya saja ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur. Rosen (1981), Langley (2002), Laferrère dan Le Blanc (2006) menjelaskan bagaimana pemerintah Prancis memberikan kemudahan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk memiliki tempat tinggal (baca: rumah dan atau rumah susun) yang layak ditempati.

Rosen (1981:147) menyampaikan bahwa pada tahun 1969 warga Prancis yang ingin mengajukan KPR diharuskan memiliki deposit di Plan d’Espargne Logement atau di bank perumahan paling sedikit 4 tahun dengan jumlah deposit paling sedikit USD 325 pertahunnya, dimana bunga depositonya tidak dikenakan pajak dan uang tidak dapat ditarik selama 4 tahun. Sedangkan Laferrère dan Le Blanc (2006:164) tidak menyebutkan jumlah minimal deposito yang harus disimpan akan tetapi calon debitur harus memiliki akun deposito di bank perumahan sekurang-kurangnya 5 tahun sebelum mengajukan KPR. Kemudian, cicilan perbulannya disesuaikan dengan penghasilan debitur, termasuk tenornya.

Selain Prancis, pemerintah Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001 dan 2009 juga memberikan kemudahan kepada warganya untuk mendapatkan KPR. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat saat itu menginstruksikan institusi perbankan dan keuangan untuk tidak perlu lagi menulusuri latarbelakang ekonomi nasabah yang ingin mengajukan KPR. Artinya, masyarakat AS yang mengajukan KPR langsung disetujui tanpa memerlukan DP dan mereka hanya dibebani cicilan setiap bulannya. Sayangnya, program ini hanya berhasil sementara karena gelembung perumahan atau housing bubbles dan faktor mikroekonomi lainnya menjadikan industri perbankan dan keuangan merugi diikuti dengan krisis keuangan yang berakibat laju ekonomi AS terpuruk.

Bianco (2008) menyampaikan bahwa puncak housing bubbles terjadi di AS pada akhir tahun 2005. Banyak industri mikro; perumahan, keuangan dan perbankan menghadapi krisis keuangan yang akhirnya membuat ekonomi makro di AS terpuruk hingga beberapa tahun kemudian. Terjadinya efek domino disebabkan oleh gelembung perumahan di AS mempengaruhi perkembangan ekonomi di beberapa negara di Eropa seperti Yunani, Spanyol, Itali, Irlandia, dan lainnya. pada tahun 2008.

KPR dengan DP nol persen di DKI Jakarta rencananya akan diwujudkan dengan catatan apabila mereka berdua memenangkan pemilihan kepala daerah (PILKADA) 2017. Katakanlah mereka terpilih, pertanyaannya adalah bagaimana mekanisme  program KPR tanpa DP ini dapat direalisasikan?. Sedangkan, pemerintah Indonesia melalui bank sentralnya sudah mengatur kebijakan rasio loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) untuk pengajuan KPR. Jelas, acuan yang dikampanyekan oleh CA(WA)GUB tersebut sangat tidak objektif. Jika mereka mengacu kepada kebijakan negara Prancis tahun 1965 – 1984, jelas tidak mungkin. Apalagi mengacu kepada kebijakan pemerintah AS yang telah membuat ekonomi global mengalami krisis keuangan. Lalu, ada yang tahu program KPR tanpa DP untuk warga DKI Jakarta didapat dari mana?. Menurut saya dari wacana mereka sendiri yang memang terkesan tergesa-gesa. 

Permasalahan
Tentunya jika saya menjadi warga Jakarta dan belum memiliki rumah akan merasa senang sekali mendengar program tersebut dan berharap AB dan SU dapat mewujudkan janjinya. Akan tetapi, dibalik hingar-bingarnya masyarakat terhadap janji program KPR nol persen ini, saya justru melihat ada beberapa keanehan pada solusi yang ditawarkan oleh AB dan SU.

Yang pertama, mengacu pada pasal 17 tentang Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 18/16/PBI/2016, dimana rasio pendanaan bank untuk KPR adalah sebesar 85% untuk kepemilikan rumah pertama (Bank Indonesia, 2016). Sedangkan sisanya 15% ditanggung oleh nasabah. Artinya, jumlah 15% dari harga rumah akan dibebankan kepada pelanggan untuk membayar DP KPR. Siapakah yang akan menanggung DP 15%, jika CA(WA)GUB tersebut memiliki solusi KPR dengan DP 0%? Apabila DP 15% dibebankan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), bagaimana mekanismenya?

Yang kedua, dikatakan oleh AB dan SU bahwa masyarakat DKI Jakarta harus mempunyai simpanan yang disimpan di bank tertentu selama 6 bulan. Kemudian, uang tersebut akan digunakan sebagai pengganti DP sebesar 10%. Selanjutnya cicilan KPR tetap dengan rentang waktu cicilan selama 15 tahun. Masalahnya adalah, jika Bank DKI Jakarta yang akan menjadi kreditur untuk KPR, berapa jumlah minimal uang yang harus disimpan selama satu semester?

Pembahasan
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan DP nol persen akan menimbulkan beberapa permasalahan. Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud untuk menawarkan solusi tetapi mencoba membahas sekaligus mengajak warga DKI Jakarta untuk berpikir lebih kritis terhadap wacana tersebut.

Yang pertama, institusi perbankan dan keuangan menjadi jembatan antara debitur (baca: nasabah yang mengajukan KPR) dan kreditur (baca: investor umum yang menyimpan sebagian kekayaanya di bank). Banyak bukti empiris yang dapat kita pelajari bersama bahwa industri perumahan, perbankan dan keuangan pernah mengalami kredit macet. Macetnya kredit perumahan utamanya disebabkan oleh debitor yang tidak dapat membayar kewajiban setiap bulannya kepada pihak bank sebagai kreditur.

Bank sentral mengatur industri perbankan dan keuangan supaya kestabilan moneter dapat dipelihara dan dicapai, untuk memastikan bahwa kebijakan moneter berjalan efektif, dan supaya resiko dapat dikurangi dan dicegah (BAPPENAS, 2015). Katakan AB dan SU memenangi PILKADA kemudian mengeluarkan PERDA dan mengimplementasikan program KPR tanpa DP dengan menunjuk Bank DKI Jakarta sebagai kreditur, maka dapat dipastikan bahwa DP 15% yang seharusnya ditanggung oleh calon nasabah KPR dibebankan kepada para depositor atau masyarakat umum yang menyimpan sebagian penghasilan dan kekayaannya di bank tersebut.

Kemudian, kreditur membayarkan DP 15% ke perusahaan pengembang properti. Jika bank sentral mengetahui pelanggaran ini, maka Bank DKI Jakarta akan mendapatkan peringatan karena keputusan yang diambil dapat beresiko terhadap kestabilan moneter. Jadi, saya pikir membebankan DP 15% untuk kepemilikan rumah pertama ke pihak bank sangatlah tidak mungkin. Lebih-lebih jika DP 15% dibebankan ke APBD karena mekanisme yang belum jelas dan yang lebih penting lagi adalah AB dan SU belum mengetahui bagaimana mengatur APBD untuk PEMDA DKI Jakarta.

Pembahasan yang ke-dua adalah tentang besar kecilnya jumlah deposito yang harus disimpan oleh calon nasabah KPR di suatu bank di Jakarta selama satu semester tidak disampaikan oleh CA(WA)GUB. Saya melihat bahwa wacana ini tidak mengacu kepada kebijakan pemerintah Perancis tahun 1965 – 1984. Namun, wacana ini berasal dari AB dan SU. Menurut AB yang dikutip oleh Cahya (2017) bahwa KPR untuk warga DKI yang berpenghasilan Rp 7 juta. Dari penghasilan tersebut saya asumsikan bahwa mereka dapat menyisihak sebagian pendapatannya sebesar  30 – 35%. Maka mereka dapat menyimpan Rp 12.6 – 14.7 juta selama satu semester tanpa menambahkan pendapatan dari bunga deposito.

Apakah jumlah deposito selama 6 bulan sudah cukup untuk membayar DP 10% yang katakan Rp 350 juta seperti yang pernah disampaikan oleh AB dan SU pada debat PILGUB, adalah jelas belum cukup. Apalagi dalam PBI sudah dijelaskan bahwa rasio LTV untuk KPR pertama yaitu 15%.  Sebagai tambahan, penetapan jumlah besar kecilnya cicilan KPR selama masa tenor 15 tahun juga masih belum jelas begitupun bunga hutang atas KPR juga belum disampaikan oleh Bank DKI Jakarta.

Yang saya ketahui adalah perbankan tidak memberikan kredit kepada calon debitur apabila status yang bersangkutan belum diangkat menjadi karyawan tetap oleh perusahaan dimana mereka bekerja. Salah satu alasan bank tidak memberikan kredit adalah karena bank tidak ingin mengalami kredit macet, apabila mereka sewaktu-waktu dirumahkan atau tidak lagi dikaryakan oleh perusahaan. Meskipun, mereka yang berstatus karyawan tetap, bank akan menghadapi resiko kredit macet jika penjualan perusahaan, dimana debitur berkerja mengalami penurunan berkala karena persaingan industri semakin ketat yang akhirnya berujung pada penutupan perusahaan.

Jawaban dari pertanyaan apakah PEMDA DKI Jakarta dapat meyakinkan bahwa multi industri, dimana warga Jakarta bekerja tidak akan menutup perusahaannya adalah mustahil dapat dilakukan oleh PEMDA. Debitur yang tidak dapat membayar cicilan KPR akan kehilangan hak kepemilikan rumah karena rumah akan disita oleh pihak bank. Nilai asset bank akan bertambah tetapi persentasi non performing loans akan meningkat sekaligus munjukkan kepada masyarakat bahwa kinerja bank tidak bagus.

Jika kredit macet berkelanjutan bank terpaksa mengambil uang cadangan yang tersimpan di bank sentral untuk memenuhi biaya operasional. Namun, jika kredit macet tidak dapat diperbaiki maka yang akan terjadi adalah bank yang dijadikan rekan kerja oleh PEMDA DKI Jakarta akan mengalami krisis keuangan yang berimplikasi terhadap kelanjutan ekonomi. Jangan sampai kasus bailout perbankan terjadi lagi sebab bailout diambilkan dari pendapatapan pajak yang berasal dari semua lapisan masyarakat di Indonesia.

Kesimpulan
Belajar dari krisis moneter negara AS dikarenakan oleh macetnya kredit perumahan, dimana industri perbankan dan keuangan diinstruksikan oleh pemerintahnya saat itu supaya menyetujui KPR tanpa harus melihat latarbelakang ekonomi debiturnya. Juga, belajar dari bagaimana pemerintahan Prancis memberikan kemudahan KPR kepada masyarakatnya yang berpenghasilan rendah pada tahun 1965 – 1984. Mempelajari wacana dari CA(WA)GUB dimana KPR tanpa DP dapat dilakukan. Kemudian, mereka membuat pernyataan kembali dimana program KPR tersebut, adalah untuk warga DKI Jakarta yang berpenghasilan Rp 7 juta perbulan dengan beberapa persyaratan yang saya sendiri tidak mengerti tentang asal-muasal acuan seperti KPR tanpa DP. Jika ingin berkiblat ke Prancis dan AS jelas tidak mungkin.

Dari PBI No 18/16/PBI/2016 tentang rasio LTV untuk KPR pertama, saya melihat bahwa program yang disampaikan oleh CA(WA)GUB melanggar ketentuan PBI, karena AB dan SU sudah memberikan pernyataan bahwa DP 10% untuk KPR. Sedangkan besarnya rasio LTV untuk KPR pertama sudah ditentukan yaitu 15% dari total harga rumah yang akan dikredit. Bank DKI Jakarta, menurut saya juga tidak mungkin berani melanggar ketentuan yang sudah diatur oleh PBI. Jika tetap nekad maka bank sentral akan memberikan peringatan. Bisa pula dikatakan bahwa biaya DP 15% akan dibebankan ke APBD, maka akan ada pemangkasan penganggaran sekian persen untuk setiap program kesejahteraan masyarakat. Tapi, mekanismenya sendiri masih belum jelas.

Dengan jumlah deposito selama 6 bulan yang tidak cukup untuk melunasi DP sebesar 15%. Saya tidak yakin bahwa pihak perbankan akan mengambil resiko dengan memberikan subsidi sisanya kepada calon debitur yang status kepegawaiannya masih belum jelas. Meskipun jelas, resiko yang diambil Bank DKI terlalu tinggi. Jika terjadi kredit macet karena beberapa factor seperti status kepegawaian debitur tidak diperpanjang, perusahaan merugi kemudian menutup usahanya maka warga DKI Jakarta yang sudah membayar cicilan sekian tahun akan mengalami krisis keuangan. Apabila keadaan ekonomi tidak menentu dan mereka tidak bisa membayar cicilan KPR, maka pihak bank akan mengambil hak kepemilikan KPR. Ketika kredit macet berkelanjutan, maka imbasnya terhadap kelanjutan ekonomi juga akan tersendat.

Dengan demikian kita dapat mengetahui siapa yang akan dirugikan dalam KPR dengan DP nol persen, yaitu bukan siapa-siapa lagi melainkan warga DKI Jakarta sendiri. Oleh karena itu, saya berharap siapapun yang mencalonkan sebagai pemimpin daerah pada umumnya dan khususnya kepada AB dan SU, silahkan paparkan program KPR ini secara detil dan transparan sehingga warga DKI Jakarta menjadi lebih terdidik oleh wacana-wacana yang akan dan sedang dikampenyekan. Sebagai tambahan, saya berharap supaya warga DKI Jakarta dapat berpikir lebih kritis terutama terhadap program yang menyangkut kesejahteraan sosial.

Daftar Pustaka
Bank Indonesia., 2016. PBI No.18/16/PBI/2016 Tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti, dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor. Bank Indonesia. Tersedia online di: http://www.bi.go.id/id/peraturan/ssk/Pages/PBI_181616.aspx  Diunduh pada 10 April 2017.

BAPPENAS., 2015. Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/8/PBI/2015 Tentang Pengaturan dan Pengawasan Moneter. BAPPENAS. Tersedia online di: http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/155789-%5B_Konten_%5D-Peraturan%20BI%20No17-8-PBI-2015.pdf Diunduh pada 13 April 2017.

Bianco, Katalina M., 2008. The Subprime Lending Crisis: Causes and Effects of the Mortgage Meltdown. CCH. Tersedia online di: https://business.cch.com/images/banner/subprime.pdf Diunduh pada 10 April 2017.

Cahya, Kahfi Dirga., 2017. Anies Sebutkan Syarat Penerima Kredit DP Rumah Nol Rupiah, Apa Saja?. Tribunnews. Tersedia online di: http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/03/15/anies-sebutkan-syarat-penerima-kredit-dp-rumah-nol-rupiah-apa-saja Diunduh 16 April 2017.

Kurniawan, Bagus Abdul., 2016. Ingin Mengambil KPR Subsidi? Pahami Hak dan Kewajiban Anda!. Bank Tabungan Negara – Properti. Tersedia online di: https://www.btnproperti.co.id/blog/ingin-mengambil-kpr-subsidi-pahami-hak-dan-kewajiban-anda-38.html Diunduh pada 10 April 2017.

Laferrère, Anne and Le Blanc, David., 2006. Housing Policy: Low-Income Households in France. Terdapat online di:  http://www.crest.fr/ckfinder/userfiles/files/Pageperso/laferrere/laferrere_fichiers/ACTC10.pdf Diunduh pada 10 April 2017.

Langley, Elizabeth., 2002. The Changing Visage of French Housing Policy and Financing: A Half-Century of Comprehensive, Complex and Compelling Home Building. Housing Policy in the United States. Tersedia online di: http://www.housingfinance.org/uploads/Publicationsmanager/Europe_frenchhousingpolicy.pdf Diunduh pada 09 April 2017.

Primadhyta, Safyra., 2017. Bank Indonesia Larang KPR dengan DP Nol Persen. CNN Indonesia. Tersedia online di:  http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170217150456-78-194249/bank-indonesia-larang-kpr-dengan-dp-nol-persen/ Diunduh pada 10 April 2017.

Rosen, Kenneth., 1981. A Comparison of European Housing Finance Systems. University of California at Berkeley. Terdapat online di: https://www.bostonfed.org/-/media/Documents/conference/24/conf24e.pdf?la=en. Diunduh pada 10 April 2017.

Sarwanto, Abi., 2017. CAGUB Anies Klaim Program KPR Tanpa DP Tak Salahi Aturan. CNN Indonesia. Tersedia online di: http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20170217225317-516-194383/cagub-anies-klaim-program-kpr-tanpa-dp-tak-salahi-aturan/ Diunduh pada 10 April 2017.

Posted in Education | Tagged , , , | Leave a comment

Kiat-kiat Sukses dalam Mengerjakan Tugas Akhir (TA) atau Skripsi Dengan Dosen Pembimbing

Halooo teman-teman

Kemungkinan beberapa dari teman-teman yang melek teknologi informasi sudah tahu tentang adanya sejumlah parodi lucu, dimana saya pikir pembuat film satir itu terinspirasi oleh fenomena yang mungkin pernah mereka alami sendiri selama menjadi mahasiswi/wa di tanah air. Sebagai contohnya saya berikan tautan dari Pane, 2016 “6 tipe dosen pembimbing skripsi menurut kompas TV” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=5JCAgN01i0o).

Setelah melihat video satir dari tautan diatas saya tidak mau mempunyai pemikiran begini ya… memang begitulah perilaku dosen pembimbing tugas akhir (TA) atau skripsi di tanah air. Tapi, gimana pun yaaa tetap saja video parodi itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Apa iya sih pada umumnya semua dosen pembimbing di Indonesia berperilaku seperti itu? Jika jawabannya iya, apa kata dunia deh. Apakah mahasiswi/wa-nya yang tidak atau kurang sepenuhnya mengerti tentang apa yang sesungguhnya diinginkan oleh pembimbing TA mereka?.

Secara kuantitatif atau kualitatif saya tidak tahu seberapa benar fenomana itu karena saya tidak pernah melakukan riset untuk domain ini. Saya tidak akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Selanjutnya, motifasi saya menulis kiat-kiat ini tentunya tidak digunakan untuk melawan para dosen pembimbing TA teman-teman mahasiswi/wa di tanah air. Sebaliknya, maksud dari tulisan saya ini untuk memberikan beberapa cara bagaimana mereka agar bisa bekerjasama dengan dosen-dosen pembimbing TA dan tujuannya adalah untuk mendorong mahasiswi/wa bisa menyelesaikan tepat waktu tanpa banyak hambatan. Berikut adalah beberapa garis besar dari kiat-kiat sukses dalam mengerjakan TA:

  1. Pemilihan dan penentuan judul TA – biasanya mahasiswi/wa mempunyai sejumlah topik untuk TA-nya dan diajukan ke dosen pembimbingnya untuk selanjutnya disetujui. Namun, jika tidak biasanya fakultas menyiapkan judul TA untuk mahasiswanya.
  2. Pengaturan jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing – Mahasiswi/wa seharusnya sudah tahu kapan, berapa kali pertemuan konsultasi, agenda apa saja yang akan didiskusikan pada pertemuan dengan dosen pembimbing dan cara berkomunikasi – pakai email/telp/skype (untuk skype di Indonesia kayaknya nggak deh :P). Salah satu agenda yang semestinya dibicarakan dengan dosen pembimbing adalah di no. 3.
  3. Menyiapkan metode penelitian yang akan digunakan (baca: pendekatan secara kuantitatif atau kualitatif) – mahasiswi/wa harus tahu metode pendekatan apa yang akan dipakai untuk risetnya. Mahasiswi/wa harus tahu langkah selanjutnya dari metode penilitian yang dipilih dan jangan lupa jelaskan (jika diminta dosen pembimbing untuk menjelaskan) kenapa memilih salah satu diantara dua metode itu. You get what I mean, don’t you?! 
  4. Sudah menjadi hal yang umum bahwa mahasiswi/wa harus menghadap ke dosen pembimbing TA-nya untuk melakukan konsultasi setiap bab yang sudah dikerjakan. Tapi, “katanya” membuat janji konsultasi dengan dosen pembimbing itu terkadang sulit. Lebih ironis lagi jika sudah janjian tapi tidak bertemu karena dosen sibuk ini dan itulah… atau tidak tepat waktu dan sudah gitu dosen pembimbing TA hanya punya waktu sedikit, katakan 5 menit. Jadi waktu konsultasinya tidak maksimal. Untuk mengantisipasi fenomena diatas, mahasiswi/wa harus tahu bagaimana membuat janji dengan dosen pembimbingnya (baca: hari, jam, dan berapa lama waktu konsultasi yang kamu butuhkan). Terlebih penting lagi adalah, mahasiswi/wa seharusnya sudah tahu cara membuat komunikasi yang efektif tanpa mengurangi rasa rispek ke dosen pembimbingnya. Kirimkan agenda meeting teman-teman ke dosen pembimbingmu. Kirim pesan singkat hanya untuk memberitahukan, contoh Pak XYZ atau Bu XYZ, saya sudah kirim agenda konsultasi ke emailnya. Sampai disini teman-teman ngerti gaaaak? If not, I am gonna use my skills to read what’s in your minds right now sambil mataku melotot keheranan. 😛
  5. Karena setiap pertemuan dan diskusi dari konsultasi mahasiswi/wa sangat berarti. Maka, teman-teman harus bisa mendokumentasikan hasil dari setiap konsultasi. Lalu, lebih penting lagi adalah setiap pertemuan, teman-teman tidak hanya mendengarkan konsultasi dari dosen pembimbing. Tapi, teman – teman juga menyiapkan beberapa hal yang dirasa penting untuk ditanyakan. Jadi tidak lho lha lho lhok… sambil ngedumel… terserah masukan dari Pak atau Bu dosen pembimbing dah!!
  6. Buatlah dosen pembimbing terkesan dengan cara berpikir teman-teman disetiap saat. Jangan berkecil hati jika bertemu dengan dosen pembimbing yang banyak bertanya ke teman-teman pada saat konsultasi berlangsung.
  7. Minta tanda tangan persetujuan dari setiap hasil konsultasi dan ketika TA teman-teman sudah siap dijilid sebagai pertemuan terakhir sebelum pertemuan yang paling akhir, yaitu sidang skripsi!!

Sudah sekian dulu ya… semoga dengan kiat-kiat ini teman-teman bisa menyelesaikan TA dengan penuh keceriaan. Jika sudah selesai S1 jangan lupa… lanjut ke S2 dan S3!!

Salam sukses!
Siswantoyo 😉

Posted in Education | Tagged , , , | Leave a comment

Swiss Time = Waktu Swiss

Jam Swiss (SBB's website, 2016)

Jam Swiss (SBB’s website, 2016)

Jangan bosan jika saya selalu mengagumi Swiss, juga jangan beranggapan bahwa saya tinggi-hati karena selalu menggunakan Swiss sebagai percontohan budaya bisnis pada sub-bagian dari edukasi. Sebelum saya memilih kuliah di Swiss, saya selalu berpikir dan bertanya-tanya kenapa ya jam-jam tangan yang bermerk (baca: Omega, Patek Philippe, Tissot, Rolex dan Bernhard) papan atas ini semuanya diproduksi di Swiss?. Saya sendiri sempat bingung karena pada awalnya tidak mudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan pribadi saya.. Mungkin kalian akan beranggapan oh saya ini gila ya, masak tanya-tanya sendiri kemudian dijawab sendiri. Baik, diantara kita juga pasti pernah bertanya-tanya kenapa kita diperbudak oleh waktu atau kenapa waktu mengatur kita?.

Ngantuk guys… ntar saya lanjut lagi ya… selamat malam… 😉

References:

Kereta Api Negara Swiss (SBB), 2016. Jam SBB. Terdapat online pada: <https://www.sbb.ch/en/timetable/mobile-timetables/mobile-apps/sbb-clock.html&gt; [Diunduh 21 Pebruari 2016].

Posted in Budaya Bisnis: Business Culture | Leave a comment

Biaya Kuliah dan Kebutuhan Hidup di Swiss

Postingan saya sebelumnya memberikan beberapa informasi tentang alasan kenapa saya memilih melanjutkan kuliah di Swiss. Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai biaya-biaya seputar perkuliahan dan kehidupan mahasiswa di Basel, Swiss; seperti mulai dari SPP, material kuliah, biaya transkrip, ijazah, harga sewa kamar apartemen, biaya internet, pulsa untuk telepon genggam pintar, tranportasi sampai biaya kebutuhan makanan.

Secara umumnya sih biaya perkuliahan di luar negeri memang mahal. Namun, kalau hanya dengar mahal saja tidak cukup, sebab kalian sudah harus tahu apa saja yang membuat mahal. Lagi pula biaya perkuliahan di setiap negara pasti berbeda-beda, juga bergantung pada tingkat pendidikan (baca: S1, S2 dan S3). Semurah-murahnya atau semahal-mahalnya suatu barang pasti ada nominalnya kaaann. Begitupun biaya perkuliahan.

Sebelumnya saya informasikan bahwa ada perbedaan antara biaya perkuliahan untuk mahasiswi/wa yang bukan dari negara persatuan eropa dan mahasiswi/wa yang berasal dari negara persatuan eropaTapi perbedaanya tidak perlu saya uraikan disini, karena tidak berpengaruh pada kalian, iya toh? hehe…

Baik, mengenai biaya kuliah di Swiss, secara khususnya saya ambil contoh biaya kuliah setiap pertengahan tahun di universitas dimana saya belajar sebagai berikut:

  1. Sarjana (S1)  SFr 5,800  x Rp 13,500 = Rp   78,300,000 x 6 semester = 469.8 juta
  2. Master  (S2) SFr 7,800   x Rp 13,500 = Rp 105,300,000 x 3 semester = 315.9 juta

Kalau mahasiswi/wa encer otaknya, untuk nomer 1 bisa ditempuh selama 6 semester, dan selambat-lambatnya 8 semester. Begitu pula untuk nomer 2, kalau otaknya encer bisa ditempuh selama 3 semester dan 4 semester selambat-lambatnya. Seandainya saya hanya mampu selesaikan kuliah S2 dalam kurun waktu 4 semester, maka di sini saya tidak bisa menghemat uang selain waktu. Tahu kan pepatah mengatakan bahwa waktu adalah uang dan uang dapat diinvestasikan baik investasi berjangka pendek maupun panjang.

Alhamdulillah… saya bisa selesaikan kuliah S2 dalam kurun waktu 3 semester dengan nilai yang memuaskan. Jadi tidak perlu buang uang sia-sia toh. Selanjutnya, seperti yang saya janjikan sebelumnya bahwa ada biaya-biaya tambahan yang hanya dibayar sekali antara lain:

  1. Biaya Pendaftaran Sfr 200                       = Rp  2,700,000
  2. Transkrip Nilai  SFr 50 per lembarnya = Rp     675,000 jika ada tambahan
  3. Ijazah           SFr 300 per lembarnya       = Rp  4,050,000

Biaya perkuliahan diatas tidak termasuk biaya buku materi kuliah dimana mahasiswi/wa harus beli sendiri, sebab universitas tidak menyediakan buku gratis. Mahasiswi/wa tidak perlu pergi ke toko buku online atau toko buku di dalam kota karena pihak universitas menyediakan buku dadakan setiap ajaran baru atau setiap semester baru akan dimulai. So, kalian bisa beli kalau perlu.

Tips: Kalian dapat membeli buku bekas “second hand” yang direkomendasikan oleh dosen pengajar dengan harga yang terjangkau baik secara online maupun lihat papan pengumuman di kampus. Seberapa murah sih bro? Well, yang pasti miring lah harganya  meskipun tidak banyak, tapi yeah tetep lumayan selisihnya. Apalagi kamu bisa nego LOL.

Lebih lanjut, biaya lainnya adalah biaya kehidupan sehari-hari dimana pengeluaran pribadi bergantung pada individu masing-masing. Karena, kebutuhan setiap mahasiswa/wi tidak sama. Saya hanya dapat memberikan ilustrasi biaya yang saya keluarkan.

    1. Sewa apartemen per kamar dan per bulan             CHF   700
    2. Asuransi kesehatan dan kecelakaan per bulan       CHF  90-300
    3. Langganan Kartu Transportasi 1/2 harga/thn         CHF  175
    4. Transportasi dalam kota per bulan                           CHF    90
    5. Kebutuhan Pokok (i.e.makan dan minum) /bln      CHF 350 – 400
    6. Lain lain                                                                          CHF  200

Total                                                      CHF 1,430 – 1,690/bulan + 175 per tahun.

Biaya-biaya diatas berfungsi sebagai gambaran ekonomisnya saja. Karena biaya yang dikeluarkan setiap mahasiswa/wi tidak sama. Khusus mengenai tempat tinggal, saya memilih tinggal di dalam kota yang tidak jauh-jauh amat dari kampus, perpustakaan dan pusat perbelanjaan. Yeah pusat kota maksudnya… ya biar gaul dikit lah. Ada beda harga asuransi untuk mereka yang tinggal di dalam dan sedikit di luar kota. Cuman ya gak tahu selisih biaya secara pastinya.

Kalau kalian suka makan diluar ya biaya kebutuhan pokoknya akan bertambah besar, tapi gak apa sih kalian emang borju hehe. Kalau saya membeli sepeda onthél untuk mengurangi biaya pengeluaran naik transportasi umum. Lagian, bersepeda kan sehat 😛 dan bagus untuk mengurangi panas dunia.

Perhitungan dalam jumlah rupiah, saya pakai nilai tukar mata uang kita Rp 13,500 per SFr-nya. Salah satu alasan kenapa saya pakai nilai tukar Rupiah terhadap Swiss Franc adalah untuk membantu kalian supaya yang ada di kepala tidak melulu dolllaaarr amerika. Lagian ya nilai mata uang Swiss lebih tinggi 1000 Rupiah dibandingkan dengan nilai tukar mata uang Amerika.

Sekarang saya serahkan ke kalian untuk mengalikan berapa kira-kira biaya kehidupan sederhana mahasiswi/wa asing di Swiss yang saya ilustrasikan. Jika ingin hidup sedikit enak yaa tambahkanlah 30% dari SFr 1,430 – 1,690 per bulan. Kemudian, jangan lupa untuk dikalikan selama katakan 3 atau 4 tahun baik untuk S1. maupun 1 ½ atau 2 tahun untuk S2.

Oh iya, biaya sewa kamar di apartemen (baca: istilahnya sewa bareng-bareng, satu unit apartemen ada 2-3 kamar tidur dan satu kamar tidur untuk satu orang saja) itu berlaku di kota Basel saja, dan juga rumah susun tidak dibangun dalam kurun waktu 20 tahun terakhir tapi lebih dari itu. Meskipun bangunan lama, kenyamanan dan kualitasnya tetap jauh dibandingkan dengan apartemen sekelasnya di Indonesia (Jangan mimpi setiap flat punya kolam renang, dll. kayak di Indo ya). Untuk biaya sewa kamar di Jenewa sebesar 200 SFr lebih mahal dibandingkan dengan harga sewa kamar di Basel.

Nah… Secara umum kalian sudah tahu kan berapa anggaran untuk kuliah dan hidup yang akan dikeluarkan oleh mahasiswi/wa Indonesia di Swiss. Ough iya, mahasiswi/wa juga bisa kerja sambilan atau paruh waktu jika mau dengan catatan jika ada perusahaan yang mau menerima kalian kerja. Coba saja, ngelamar kerja di restoran atau di kafe-kafe. Sebelum melamar kerja paruh waktu di sini. Tanyakan dulu pada diri sendiri apakah sudah mampu berbicara salah satu dari 4 bahasa nasional di Swiss (baca: Jerman, Prancis, Itali dan Romansh) dengan lancar.

Jika mampu berbicara bahasa dengan lancar, saya kasih peringatan ya – jangan berharap bisa dapat nilai bagus jika harus kerja paruh waktu karena beban kuliah tidak ringan (baca: https://lejavanais18.wordpress.com/2015/07/03/tantangan-dalam-menimba-ilmu-pengetahuan-di-swiss/).

Sekian dulu yaaa dan jangan lupa klik suka atau bagikan jika dirasa penting. Oh ya jangan lupa juga referensinya yaa.

Sampai jumpa lagi 😉

Posted in Education | Tagged , , , | 15 Comments